Afternoon Tea #27: Sesuatu Tentang Reka Ruang

 

Afternoon Tea #27: "Sesuatu Tentang Reka Ruang" 

Sabtu, 20 September 2014 

Pk. 15.00 - 18.00 WIB

Pustaka Selasar

Selasar Sunaryo Art Space

 

Pembicara: Indah Widiastuti (OC Arte-Polis 5 | Dosen ITB), Agus S. Ekomadyo (IAI Jabar | Dosen ITB), Deddy Wahjudi (Pecha Kucha | LABO | Dosen ITB), Kanya P. (Ikatan Mahasiswa Arsitektur - Gunadharma, ITB)

Moderator:Sarah Ginting (Arsitek)

 

Tipologi perkotaan pada negara berkembang seperti Indonesia, memiliki permasalahan umum sama, yaitu ketidakkonsistenan antara realisasi pembangunan dengan perencanaan tata ruang. Apalagi pada pemerintahan yang cenderung mengazaskan “hukum adalah kapital, pula sebaliknya”, terbukti efektif menghasilkan kesemrawutan zoningfungsi urban. Kota pun terbagi menjadi kantong-kantong “tertata” –biasanya dikelola pengembang– yang sangat kontras dengan kondisi sekelilingnya, yaitu area urban yang berkembang secara organik sehingga kumuh. Wilayah tersebut minim dengan infrastruktur standar, bersirkulasi sempit, serta dijamuri permukiman kurang layak huni, yang ruang luar antar bangunannya padat, dihiasi sampah berserakan.

Read more...
 
Things Happen When We Remember

Pameran Tunggal FX Harsono

 

Pembukaan Pameran:

Sabtu, 6 September 2014, Pk. 19.00 WIB

Di Amphiteater

Dibuka oleh Mr. Ton van Zeeland

(Direktur Erasmus Huis, Kepala Bagian Humas dan Kebudayaan Kedutaan Besar Belanda di Indonesia)

 

Artist Talk:

Minggu, 7 September 2014, Pk. 14.30 WIB

Di Bale Handap

 

Exhibition Walkthrough:

Minggu, 7 September 2014, Pk. 13.30 WIB

Jumat, 12 September 2014, Pk. 13.30 WIB

 

Durasi Pameran:

6 September – 28 September 2014

Di Ruang B dan Ruang Sayap

 

[...]Pameran Things Happen When We Remember (Kita Ingat Maka Terjadilah) mempertemukan sejumlah karya instalasi dan video FX Harsono empat tahun terakhir (2011 – 2014) dalam sebuah presentasi baru. Pemilihan karya-karya ini tidak hanya dimaksudkan untuk menunjukkan suatu fokus tematik yang semakin menguat dalam karya-karya Harsono. Persoalan diri dan ingatan-ingatan personal menjadi subjek baru dalam karya-karya mutakhirnya. Berangkat dari pertanyaan-pertanyaan tentang identitas diri dan keluarganya, ia menelusuri kembali berbagai tempat, peristiwa, kisah-kisah (dalam buku-buku sejarah, mitos ataupun tuturan) dan artefak-artefak yang ia anggap mewakili narasi sejarah tentang etnis Tionghoa di Indonesia. Harsono menggali narasi-narasi yang terpendam dan terepresi oleh sejarah besar. Seluruh karya dalam pameran ini adalah sampel dari sebuah proses kerja kreatif yang khas. Proses pengerjaan karya-karya dalam pameran ini melibatkan observasi dan metode ‘riset’ yang ia ciptakan sendiri. Yang menarik, meskipun masih berdasar pada pengamatan terhadap kenyataan-kenyataan sosial, karya-karya ini masih menunjukkan suatu pengolahan dunia imajinasi dan pengalaman batin yang subjektif. Mewakili perlintasan ulang-alik antara ‘data’ dan ‘imajinasi’, antara objektivitas dan subjektivitas, proses kreatif Harsono melahirkan tafsir artistik yang menyentuh tentang sejarah dan ingatan.[...]

Agung Hujatnikajennong, Kurator Pameran