DSCF9682.JPG

Ekuilibrium

17 September –

24 Desember 2021

Ruang A & Ruang B

Selasar Sunaryo Art Space

Karya dan Pikiran Rita Widagdo
“Dalam bidang seni tidak nampak adanya suatu evolusi. Kualitas seni yang tinggi mengikuti manusia sejak permulaan: mutu seni sebagai invariansi dalam sejarah manusia.”

Rita Widagdo, “Kajian Singkat Mengenai Perkembangan Seni Rupa Sejak Renaissance Sampai Kini”, disampaikan pada Sidang Senat Intitut Teknologi Bandung, 29 Mei, 1993, (Bandung: Penerbit ITB, 1993), 25.

Kalimat penutup orasi ilmiah di depan Senat ITB itu menggambarkan pandangan Rita Widagdo terhadap seni; bidang yang ditekuninya selama hampir 60 tahun sejak menuntaskan pendidikan seni patung pada 1964 di Stuttgart, Jerman. Kutipan itu menunjukkan pandangan Rita bahwa seni tidaklah usang. Meski seni berubah dan mengikuti zamannya, kita bisa menemukan dalam kebudayaan lama bahwa mutu kesenian yang tinggi, dalam tingkat tertentu, tidaklah luntur. Tak ubahnya nilai-nilai yang dianut manusia.

 

Bersama suaminya, Widagdo, Rita pindah ke Indonesia pada 1965, kemudian mengajar di Seni Rupa ITB. Sejak awal kariernya, Rita konsisten menghasilkan karya-karya dengan pendekatan seni abstrak. Ratusan karya patung, elemen estetik, relief, dan monumen yang dihasilkannya menyebar dari Aceh hingga Papua dan menjadi bagian dari bangunan pribadi, perkantoran, hotel, gedung pemerintahan, dan ruang publik. Perjalanan kekaryaan Rita secara komprehensif ditampilkan dalam pameran tunggal terakhirnya pada 2005 di Galeri Nasional, Jakarta.

Dalam pameran kali ini, karya, maket, dan dokumentasi ditampilkan untuk mengungkap proses kreatif dan pikiran-pikiran Rita Widagdo. Ekuilibrium merupakan interpretasi terhadap figur Rita dan praktik seninya. Ia merujuk pada kondisi keseimbangan dan ketercukupan yang disebabkan oleh berbagai unsur yang ada. Namun, dalam konteks Rita Widagdo, ekuilibrium bukan hanya merujuk pada kualitas estetik karya-karyanya, melainkan juga keseimbangan peran Rita sebagai seniman dan pengajar, serta keseimbangan dalam berpikir dan berkarya. Ekuilibrium juga menggambarkan bahwa kualitas abstrak dalam sebuah karya seni menyebabkan proses apresiasi menjadi seimbang karena melibatkan aspek sensasi dan persepsi dari penikmatnya.

Rita mempelajari seni patung di masa seni modern sedang mapan di Eropa. Ini memengaruhi pandangan keseniannya. Hampir semua pembahasan mengenai Rita menempatkannya sebagai seniman modernis dengan pendekatan abstrak dan formalis. Meski demikian, banyak hal dari Rita yang belum terungkap, terutama proses kreatif, pencapaian estetik, serta pikiran-pikirannya. Ekuilibrium berupaya memahami ketiga hal tersebut dengan menggunakan karya dan pernyataan Rita sebagai basis.

Melalui sudut pandang tertentu telah terjadi tindak peminggiran pada anak-anak perempuan, bahkan pengusiran. Para perempuan terusir itulah, cikal bakal Kelenteng Perempuan. Anak-anak perempuan yang dibuang keluarganya ditampung oleh Kelenteng Perempuan. Di sanalah mereka menjalani hidupnya pasca terusir dari lingkungan keluarga. Riset Tjutju Widjaja lebih jauh mengungkapkan bahwa bagi mereka tak ada lagi kebebasan untuk menjalani kehidupan “personal”. 
Pilihannya hanya satu, menjadi zhai ji, menjadi pengampu ritual keagamaan dan mempraktikkan laku pelayanan tanpa pamrih. Bagi Tjutju Widjaja, inilah yang luar biasa: terbuang dari keluarga justru tak membuat para pendeta perempuan itu menjadi pendendam; sebaliknya mereka rela memberikan hidupnya jadi pelayan umat. Perilaku yang luar biasa.
"Secara umum, Tjutju Widjaja mengondisikan 3 lapis dalam lukisannya.
Lapis pertama adalah kaligrafi. Ia menuliskan sejumlah kata atau frasa dengan meminjam teknik kaligrafi Cina. Kata dan frasa, yang dianggap merepresentasikan persoalan dari kisah hidup para zhai ji, dan lebih penting adalah merepresentasikan semangat atau spirit dalam melampaui persoalan tersebut. Lapis kedua, berupa sapuan kuas yang bebas, dan bagi pelukisnya berpijak pada penghayatan atas semangat para zhai ji. Lapis ketiga, sapuan kuas yang paling bebas dan ekspresif, seturut dengan peningkatan penghayatan."
Video oleh Andang Iskandar / Humanika Artspace
Semangat apakah? Sumarah. Tepatnya, Sri Sumarah, tokoh dalam cerita pendek karangan Umar Kayam. Kayam menggambarkan Sri Sumarah sebagai perempuan yang menerima ajaran khas Jawa, menjelang pernikahannya. Mengikuti kisah hidup Sri Sumarah, “sumarah” bukan lagi sekadar pasrah menerima, lebih dari itu sumarah adalah laku ikhlas. Sri Sumarah mengecap kebahagiaan hidup sekejap, sebelum bertubi-tubi didera kesialan. Sri menjalani semua itu dengan ketenangan luar biasa, dengan sikap “bersetia menjalani tugas”, sebagai manusia, sebagai perempuan, sebagai istri, sebagai ibu (bahkan sebagai warga negara). Ini adalah tipe kepasrahan yang “kuat”. 
Sumarah lalu diambil jadi judul pameran, untuk memberi tekanan pada semangat tersebut. Cara kerja Tjutju Widjaja, mulai dari merumuskan sejumlah kata dan frasa yang dianggap menggambarkan akhlak para Zhai Ji, atau laku sumarah itu. Kemudian kata dan frasa menjelma sapuan kuas pada bidang gambar, menjadi kaligrafi, dengan keterampilan khas yang dipelajari melalui disiplin ketat.
Tjutju Widjaja adalah ketua kehormatan Perkumpulan Kaligrafi Indonesia dan pemenang kompetisi Chinese Calligraphy. Pada kesempatan ini, Tjutju Widjaja menyapukan kuas pada bidang kanvas berlapis kertas xuan, dengan gestur yang “bebas”, tidak melulu mengikuti pakem tradisi kaligrafi Tiongkok. Pada akhirnya yang terutama tampil pada kita para pemirsa, adalah sapuan kuas yang mengemuka meninggalkan seluruh narasi itu. Yang terdepan adalah sapuan kuas, dengan gestur yang menghayati. Sapuan kuas Tjutju Widjaja. Kuat sekaligus lembut. Meledak sekaligus terkendali.  

 

 

Untuk informasi lebih lanjut, mohon hubungi:

Christine Toelle

Program Manager

program@selasarsunaryo.com

0813 2000 9997