03 Confidence.jpg

Sumarah

Pameran Tunggal Tjutju Widjaja

Agustus 2021

Bale Tonggoh

Selasar Sunaryo Art Space

5 (Foto oleh Andang Iskandar _ Humanika Artspace).JPG

Tahun 2020 Tjutju Widjaja mempertahankan disertasi berjudul “Representasi Feminisme Kelenteng Perempuan dan Zhai Ji di Bandung”, pada Program Studi Doktor Ilmu Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung. Ia pun berhasil meraih gelar doktor. Kemudian dipilih 17 lukisan yang dibuat dengan berpijak pada hasil riset studi doktoral tersebut. Paling tidak, ada 3 isu yang mengemuka; pertama, soal diaspora dan perpaduan budaya Tionghoa di Nusantara (atau Bandung, dalam lingkup lebih kecil). Kedua, isu perempuan dan gender. Ketiga, tentang lukisan kaligrafi dan abstrak. Secara menyeluruh, Tjutju Widjaja sebenarnya membuat seri karya abstrak, semi abstrak, juga kaligrafi.

Melalui sudut pandang tertentu telah terjadi tindak peminggiran pada anak-anak perempuan, bahkan pengusiran. Para perempuan terusir itulah, cikal bakal Kelenteng Perempuan. Anak-anak perempuan yang dibuang keluarganya ditampung oleh Kelenteng Perempuan. Di sanalah mereka menjalani hidupnya pasca terusir dari lingkungan keluarga. Riset Tjutju Widjaja lebih jauh mengungkapkan bahwa bagi mereka tak ada lagi kebebasan untuk menjalani kehidupan “personal”. 
Pilihannya hanya satu, menjadi zhai ji, menjadi pengampu ritual keagamaan dan mempraktikkan laku pelayanan tanpa pamrih. Bagi Tjutju Widjaja, inilah yang luar biasa: terbuang dari keluarga justru tak membuat para pendeta perempuan itu menjadi pendendam; sebaliknya mereka rela memberikan hidupnya jadi pelayan umat. Perilaku yang luar biasa.
_09.jpg
"Secara umum, Tjutju Widjaja mengondisikan 3 lapis dalam lukisannya.
Lapis pertama adalah kaligrafi. Ia menuliskan sejumlah kata atau frasa dengan meminjam teknik kaligrafi Cina. Kata dan frasa, yang dianggap merepresentasikan persoalan dari kisah hidup para zhai ji, dan lebih penting adalah merepresentasikan semangat atau spirit dalam melampaui persoalan tersebut. Lapis kedua, berupa sapuan kuas yang bebas, dan bagi pelukisnya berpijak pada penghayatan atas semangat para zhai ji. Lapis ketiga, sapuan kuas yang paling bebas dan ekspresif, seturut dengan peningkatan penghayatan."
Video oleh Andang Iskandar / Humanika Artspace
Semangat apakah? Sumarah. Tepatnya, Sri Sumarah, tokoh dalam cerita pendek karangan Umar Kayam. Kayam menggambarkan Sri Sumarah sebagai perempuan yang menerima ajaran khas Jawa, menjelang pernikahannya. Mengikuti kisah hidup Sri Sumarah, “sumarah” bukan lagi sekadar pasrah menerima, lebih dari itu sumarah adalah laku ikhlas. Sri Sumarah mengecap kebahagiaan hidup sekejap, sebelum bertubi-tubi didera kesialan. Sri menjalani semua itu dengan ketenangan luar biasa, dengan sikap “bersetia menjalani tugas”, sebagai manusia, sebagai perempuan, sebagai istri, sebagai ibu (bahkan sebagai warga negara). Ini adalah tipe kepasrahan yang “kuat”. 
Sumarah lalu diambil jadi judul pameran, untuk memberi tekanan pada semangat tersebut. Cara kerja Tjutju Widjaja, mulai dari merumuskan sejumlah kata dan frasa yang dianggap menggambarkan akhlak para Zhai Ji, atau laku sumarah itu. Kemudian kata dan frasa menjelma sapuan kuas pada bidang gambar, menjadi kaligrafi, dengan keterampilan khas yang dipelajari melalui disiplin ketat.
Tjutju Widjaja adalah ketua kehormatan Perkumpulan Kaligrafi Indonesia dan pemenang kompetisi Chinese Calligraphy. Pada kesempatan ini, Tjutju Widjaja menyapukan kuas pada bidang kanvas berlapis kertas xuan, dengan gestur yang “bebas”, tidak melulu mengikuti pakem tradisi kaligrafi Tiongkok. Pada akhirnya yang terutama tampil pada kita para pemirsa, adalah sapuan kuas yang mengemuka meninggalkan seluruh narasi itu. Yang terdepan adalah sapuan kuas, dengan gestur yang menghayati. Sapuan kuas Tjutju Widjaja. Kuat sekaligus lembut. Meledak sekaligus terkendali.  

 

 

Untuk informasi lebih lanjut, mohon hubungi:

Adytria Negara

Program Manager

program@selasarsunaryo.com

+62 851-9500-4505