15.jpg

Mesin Seni,
Seni Manusia

26 Oktober 2018
15.00 – 18.00 WIB

Pustaka Selasar,
Selasar Sunaryo Art Space

Seri Diskusi Afternoon Tea #42

Selasar Sunaryo Art Space (SSAS) bekerjasama dengan Fakultas Filsafat Universitas Katolik Para-hyangan, dengan bangga mempersembahkan Seri Diskusi Afternoon Tea #42: Mesin Seni, Seni Budaya bersama Stephanus Djunatan sebagai pembicara.

Diskusi ini mencoba berangkat dari pemosisian yang lebih dialogis: bahwa manusia dan mesin tidak melulu berada dalam sebuah dikotomi yang hitam-putih, seakan-akan manusia akan selalu melawan mesin. Disposisi ini mungkin dapat menjadi sebuah rekomendasi wajib untuk menyikapi kegalauan manusia dalam berhadapan dengan mesin-mesin supercerdas. Manusia dengan segala kemanusiaannya mungkin mengalami transformasi yang belum pernah diartikulasikan sebelumnya. Walau terdengar klise, namun tidak salah untuk mengatakan bahwa manusia mungkin malah akan meraih potensi tersembunyinya lewat mesin.

Senada dengan posisi pewacanaan semacam ini, seni dengan segala persoalan dan kompleksitasnya pun bukanlah pengecualian: kita tidak harus terjebak dalam peng-“kutub”-an “mesin seni” versus “seni manusia”. Afternoon Tea #42 kali ini mencoba merangkum pokok-pokok pembicaraan enam diskusi sebelumnya tentang bagaimana manusia, seni, dan mesin berada dalam sebuah ruang kreatif yang mustahil untuk dihindari. Saat benteng terakhir manusia, yaitu imajinasi, sudah mudah di-algoritma-kan, manusia tidak lagi dapat dengan leluasa memperhamba kecerdasan yang lebih cerdas darinya. Namun dengan mengambil posisi kecerdasan apapun di luar manusia sebagai sesuatu yang sangat “manusiawi”, mungkin masalahnya ada di luar kata ‘seni’ itu sendiri. Justru kata ‘seniman’ dalam pemahaman “manusia biologis” boleh jadi merupakan “barang bekas” yang kita warisi dari abad “manusia” yang tanpa kita sadari sudah berlalu. Kenyataannya kita sekarang adalah “meta-manusia” yang dijejali puluhan vaksin yang sanggup menghalau berbagai penyakit yang pernah hampir memunahkan pendahulu kita beberapa abad yang lalu, dan juga adalah spesies yang bisa “hidup” di media sosial yang jauh melampaui keterbatasan biologis homo sapiens-sapiens. Kita sebagai “seniman” mungkin adalah sebuah definisi masih sangat terbuka dan sangat mendesak untuk segera didefinisikan ulang dalam kerangka ke-“meta-manusia”-an yang baru dan segar.

Stephanus Djunatan

Stephanus Djunatan menyelesaikan studi doktoralnya dalam bidang filsafat di Erasmus University Rotterdam, Belanda, dengan disertasi yang menyoal kontroversi pola nalar “Barat” versus “Timur” . Rutin berbicara tentang kecerdasan buatan dan relevansinya dengan kehidupan manusia saat ini, Djunatan telah menuangkan pemahamannya di jurnal-jurnal nasional dan internasional, buku-buku teks, dan di dalam seminar-seminar tentang filsafat kecerdasan buatan. Kontributor tetap di Majalah Parahyangan tentang humaniora dan filsafat Sunda, saat ini aktif sebagai pengajar berbagai mata kuliah di Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR), dan juga merupakan anggota dari Centre for Philosophical and Religious Studies –sebuah pusat studi filsafat dan teologi yang ada di UNPAR.

Mardohar B.B. Simanjuntak

Lahir 1977, Mardohar B.B. Simanjuntak adalah dosen estetika di Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) Bandung. Selain aktif mengajar dan meneliti di universitas, juga menjadi pegiat fotografi independen dan menjadi pembicara di forum seperti Seminar Estetik “Larut” yang diadakan oleh Galeri Nasional Indonesia, moderator di berbagai forum kebudayaan, menulis buku tentang estetika, filsafat dan politik, dan turut pula berpartisipasi dalam pameran kelompok yang diadakan di Bandung.

Untuk informasi lebih lanjut, mohon hubungi:

Christine Toelle

Program Manager

program@selasarsunaryo.com

0813 2000 9997