15.jpg

Apa yang Tidak Kita Bicarakan Saat Kita Membicarakan Makanan

15 Maret 2019
15.00 – 18.00 WIB

Bale Tonggoh,
Selasar Sunaryo Art Space

Seri Diskusi Afternoon Tea #43

Selasar Sunaryo Art Space (SSAS) bekerjasama dengan Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan, dengan bangga mempersembahkan Seri Diskusi Afternoon Tea #43: Apa yang Tidak Kita Bicarakan Saat Kita Membicarakan Makanan bersama Fadly Rahman sebagai pembicara.

Ungkapan "makan asal kenyang" mungkin sudah kuno untuk hari-hari ini. Di tengah banyaknya kemunculan tayangan acara kuliner di televisi dan kanal video digital, manusia hari ini dihadapkan pada banyak potensi dan kerumitan tentang makanan dan laku memakan. Bagaimana hal itu berpengaruh terhadap seni kuliner hari ini? Afternoon Tea kali ini berbicara tentang manusia yang memakan dan bukan sekadar menelan, dan bagaimana mengecap dan mengunyah menjadi selebran dalam sebuah momen kultural dan bukan sekadar tahapan dari tuntutan biologis.

Manusia secara historis berhenti memakan apa yang ia lahap dan mulai sekedar menelan apa yang disajikan setelah era berburu selesai dan era bertani dimulai. Di abad industri dan era-era selanjutnya, manusia bahkan diasingkan dengan aktivitas memakan, karena perkara memasukkan makanan ke mulut menjadi sekedar rutinitas mekanis murni seperti mengisi bensin mobil: nutrisi menggantikan kata makanan dan sepiring hidangan menjadi pil-pil vitamin dan herbal. Maka tidaklah berlebihan bila kita mengatakan bahwa mengembalikan makanan ke atas meja dengan segala potensi dan kerumitannya adalah tugas seni kuliner, sehingga memakan kembali menjadi persoalan merasakan makanan (gustatoris) dan bukan memasukkan (asupan). Afternoon Tea kali ini berbicara tentang manusia yang memakan dan bukan sekedar menelan, dan bagaimana mengecap dan mengunyah menjadi selebran dalam sebuah momen kultural dan bukan sekedar tahapan dari senarai tuntutan biologis.

Fadly Rahman

Lahir di Bogor pada 27 November 1981. Berprofesi sebagai sejarawan dengan pengutamaan studi sejarah makanan serta staf pengajar di Program Studi Sejarah Universitas Padjadjaran. Menamatkan pendidikan S1 di Program Studi Sejarah Universitas Padjadjaran (2006) dan S2 di Program Studi Sejarah Universitas Gadjah Mada (2014). Buku yang telah diterbitkannya yaitu Rijsttafel: Budaya Kuliner di Indonesia Masa Kolonial, 1870-1942 (Gramedia Pustaka Utama, 2011 & 2016) dan Jejak Rasa Nusantara: Sejarah Makanan Indonesia (Gramedia Pustaka Utama, 2016). Rahman telah meraih beberapa penghargaan terkait karya tulisnya yang mengulas permasalahan pangan dan kuliner Indonesia. Pada 2018 buku Jejak Rasa Nusantara: Sejarah Makanan Indonesia mewakili Indonesia menjadi salah satu nominasi buku terbaik dunia Gourmand World Cookbook Awards di Yantai, China, untuk kategori Culinary History.

Mardohar B.B. Simanjuntak

Lahir 1977, Mardohar B.B. Simanjuntak adalah dosen estetika di Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) Bandung. Selain aktif mengajar dan meneliti di universitas, juga menjadi pegiat fotografi independen dan menjadi pembicara di forum seperti Seminar Estetik “Larut” yang diadakan oleh Galeri Nasional Indonesia, moderator di berbagai forum kebudayaan, menulis buku tentang estetika, filsafat dan politik, dan turut pula berpartisipasi dalam pameran kelompok yang diadakan di Bandung.

Untuk informasi lebih lanjut, mohon hubungi:

Christine Toelle

Program Manager

program@selasarsunaryo.com

0813 2000 9997