01.jpg

Manusia Indonesia:
Balada Penjaga dan Pengembara

19 Agustus 2018

Amphitheater & Bale Tonggoh,
Selasar Sunaryo Art Space

Mimbar Selasar 2018
07.jpg

Mimbar Selasar adalah forum pencerahan publik yang dikelola oleh Selasar Sunaryo Art Space (SSAS). Forum ini diadakan satu kali setiap tahun, dimaksudkan untuk menangkap persoalan-persoalan inti yang dihadapi bangsa ini dan untuk mendapatkan terobosan-terobosan inspiratif bagi perjalanan peradaban Indonesia menuju masa depan. SSAS berangkat dari perspektif seni, tetapi dalam perkembangannya kini, seni bukan lagi wilayah eksklusif, ia sudah semakin bersifat interdisipliner, kian menyatu dengan pergumulan nilai dalam kehidupan sehari-hari dan dengan problem keadaban manusia secara luas. Dalam kerangka itu, perspektif khas Mimbar Selasar adalah mengamplifikasi visi-visi baru yang dapat berguna bagi evolusi kesadaran masyarakat menuju masa depan.

"Reformasi telah memasuki usia yang ke-20 tahun. Ia adalah hasil pertarungan antara dua watak merespons situasi Indonesia pada era itu: antara tetap patuh kepada tirani penguasa atau bergerak maju mengusahakan masyarakat yang bebas dan demokratis. Eka Kurniawan mencoba menganalogikan dua watak Manusia Indonesia itu kepada dua sosok, Sembada dan Dora, dua orang murid Ajisaka yang diberi amanat untuk menjaga pusaka saat sang guru pergi."
Sembada adalah sosok yang patuh dan taat menjaga warisan. Sedangkan Dora adalah sosok yang tak ragu untuk membuka tabir misteri dan menjelajahi wilayah-wilayah baru. Dua sosok ini berakhir mengenaskan: mati setelah bertarung untuk mempertahankan sikap masing-masing. Eka hendak mengelaborasi dua watak ini dengan kisah lain dan perumpamaan yang baru, sembari memetakan kehadiran dua jenis watak itu sebagai sebuah perspektif dalam melihat dan menanggapi dinamika situasi Indonesia pascareformasi.
07.jpg

Eka Kurniawan

Lahir di Tasikmalaya, pada 28 November 1975. Tahun 1999, ia menyelesaikan pendidikan di Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Pada tahun yang sama ia menerbitkan buku pertamanya berjudul Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis. Ia menulis cerita pendek, novel, esai, non-fiksi, maupun naskah film. Beberapa novelnya yang terkemuka telah diterjemahkan ke Bahasa Inggris, antara lain Cantik Itu Luka, 2002 (Beauty Is a Wound diterjemahkan oleh Annie Tucker, 2015, New Directions), Lelaki Harimau, 2004 (Man Tiger diterjemahkan oleh Labodalih Sembiring, 2015, Verso Books), dan Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, 2014 (Vengeance Is Mine, All Others Pay Cash diterjemahkan oleh Annie Tucker, 2017, New Directions). Eka Kurniawan meraih penghargaan Foreign Policy’s Global Thinkers 2015. Novel Lelaki Harimau meraih IKAPI’s Book of the Year 2015 dan Financial Times/Oppenheimer Funds Emerging Voices 2016 Fiction Award. Terakhir, Cantik Itu Luka meraih World Reader’s Award 2016.

 

Untuk informasi lebih lanjut, mohon hubungi:

Adytria Negara

Program Manager

program@selasarsunaryo.com

+62 851-9500-4505