01.jpg

Gerak Aktivisme Melalui Seni

28 Oktober 2020

Melalui kanal Zoom

Webinar PSP UNPAR x SSAS #02
07.jpg

Selasar Sunaryo Art Space (SSAS) adalah sebuah organisasi nirlaba yang fokus pada pengembangan seni dan budaya visual kontemporer di Indonesia, terutama di Bandung. Program utama kami berupa eksibisi seni rupa kontemporer, namun di samping itu kami juga terus berupaya mewadahi forum-forum seni-budaya berkualitas untuk edukasi publik, salah satunya melalui program seri diskusi yang bekerjasama dengan beragam lembaga pendidikan, salah satunya adalah LPPM UNPAR. Tahun ini adalah tahun pertama kerjasama kami dengan Pusat Studi Pancasila UNPAR, merespon kondisi pandemi kini, banyak pula pameran maupun diskusi kami yang dialihkan dari program luring menjadi daring.

"Sebagai usaha kami untuk terus memperluas jangkauan program-program edukasi multidisiplin, tahun ini kami berencana untuk melaksanakan seri seminar daring ( webinar), Pembahasan topik-topik kesenian yang dekat dengan visi dan misi SSAS akan dikolaborasikan dengan prinsip-prinsip kesejarahan dan nasionalisme yang diteliti oleh lembaga kolaborator bersangkutan. Berdasarkan hal tersebut, dalam webinar mendatang kami akan mengangkat perupa muda dan narasi sejarah Indonesia dalam karya-karya mereka."


Masa ini, kita melihat jenis persenjataan yang dimulai untuk sebuah geliat dialektik terutama di wilayah politik dan ekonomi. Aktivisme –adalah bagian dari gelagat ini. Indonesia mulai dengan geliat semacam ini berkali-kali dalam sejarahnya. Dari pedang menjadi bedil dan berakhir sebagai pena –inilah riwayat pergerakan para aktivis dalam membangun kemerdekaan Indonesia, mulai dari pengakuan de facto tahun 1948 hingga penerimaan de jure tahun 1949. Namun demikian, sejarah juga mencatat netralitas aktivisme –sebuah pisau yang bergantung pada peruntukannya. Lalu, kemanakah arah aktivisme seni di Indonesia? Lantas bagaimana kita mesti menyikapi aktivisme seni? Pada kesempatan diskusi daring kali ini, kami mengundang Tisna Sanjaya (b. 1958) —seorang seniman, pengajar dan humanis asal Bandung, Indonesia. Bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda di tanggal 28 Oktober mendatang, diskusi ini akan mengolah elemen-elemen progresifitas dan kritik sosial melalui karya & pengalaman Tisna Sanjaya, guna mengeksplorasi pendekatan praktik seni yang lebih lugas dan kritis bagi generasi baru perupa & pengamat seni kontemporer.

07.jpg

Tisna Sanjaya

Lahir pada tahun1958 di Bandung, Jawa Barat. Pendidikan seni yang diterima Tisna antara lain di Program Sarjana Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung (1979-1986), Diplom Kunst (1991-1994) dan Meisterschueler (1997-1998) di Hohschuele Fur Bildende Kunste Braunschweig Jerman, dan program Doktoral di Institut Seni Indonesia, Yogyakarta (2008-2011). Sejak tahun 1989, Tisna juga aktif sebagai pengajar di Fakultas Seni Rupa dan Desain, ITB.

 

 

Untuk informasi lebih lanjut, mohon hubungi:

Christine Toelle

Program Manager

program@selasarsunaryo.com

0813 2000 9997