Sunaryo

Citra Irian

TAHUN

MEDIUM

1990

Rotan dan kayu

DIMENSI

170 x 23 x 23 cm

Patung kayu ini setinggi manusia, 170 cm. Semampai, penampangnya dipenuhi oleh guratan, torehan garis-garis repetitif. Sepintas mengingatkan pada citraan ragam hias dari khazanah seni rupa tradisional. Dan memang, seperti disiratkan judul “Citra Irian”, patung ini merujuk pada khazanah budaya yang khas, dari Irian. “Citra Irian” sepertinya adalah salah satu seri terpenting dari kekaryaan Sunaryo. Titimangsanya terentang dari 1970-an hingga 1980-an, meliputi karya-karya cetak grafis, lukisan, dan patung. “Irian” adalah nama dari masa tertentu. Kini namanya adalah Papua. Pulau terbesar di kawasan paling timur Indonesia ini, sepertinya memang memukau imajinasi.

Republik Indonesia, negeri yang sangat kaya budaya, kaya keberagaman, tentu memikat bagi para seniman; sumber inspirasi tak ada habisnya. Tak terkecuali, Sunaryo. Dalam hal ini, sebagai individu seniman, Sunaryo “membuka dirinya”. Ia membuka diri pada khazanah “kebudayaan lain”, juga watak dari material. Kayu, ia biarkan tetap hadir dengan watak pohon, bercabang dan membulat. Guratan-guratan yang menjadi ciri khas “Citra Irian” ia torehkan di sekujur tubuh pohon itu. Lilitan rotan, turut meneguhkan guratan yang mengikuti bentuk tubuh pohon itu.

Jika sosok patung ini mengingatkan pada pohon, maka ia adalah sebuah fragmen saja; bukan sosok yang utuh. Seperti juga “Irian” yang kita lihat di seri karya “Citra Irian” tentulah merupakan fragmen juga. Fragmen hasil tafsir seorang seniman bernama Sunaryo. Fragmen yang bisa saja mengantarkan kita pada kekayaan khazanah budaya dari kenyataan yang dirujuknya: Irian atau Papua, yang memikat itu.