Hendrawan Riyanto

Anak dan Ibu Bumi

TAHUN

MEDIUM

1996

Terakota, bambu, besi, cat sintetik

DIMENSI

110 x 60 x 23 cm

Sepanjang karier Hendrawan Riyanto, rentang kekaryaannya sangat beragam dan menyasar isu yang sangat meluas. Sementara basis keilmuannya adalah seni keramik. Dalam hal ini, Almarhum pun menunjukan semangat eksplorasi yang luar biasa.

Karya “Anak dan Ibu Bumi” (1996) mediumnya adalah terakota. Terakota adalah medium yang sangat tua, telah digunakan sejak ribuan tahun sebelum masehi. Pada karya ini, kita bisa melihat terakota dalam “wajah aslinya”. Warna dan profilnya dibiarkan khas terakota. Lebih dari itu, Riyanto pun membuat terakotanya retak-retak, menonjolkan fitrah tanah yang terbakar: kering dan retak.

Terakota pada karya ini dipadukan dengan bambu, dedaunan, besi dan cat tembok. Cat tembok putih menjadi aksen dari terakota yang retak. Batang besi dan bambu, menjadi semacam rangka dari bentukan terakota. Dedaunan dihamparkan mengalasi semua itu. Terakota yang retak, penataan besi, bambu, dan terutama dedaunan, semuanya serba sementara. Tak ajeg.

Barangkali semuanya memang tentang itu. Tanah terbakar, mengering. Besi berkarat. Bambu dan daun, menua. Fana.

Cari tahu lebih banyak tentang Hendrawan Riyanto dan karyanya. Katalog pameran tunggalnya berjudul Naliko Ning Semeleh pada tahun 2001 dapat dibaca di Pustaka Selasar.