Haryadi Suadi dan Radi Arwinda

Katurangganing Manungsa

TAHUN

MEDIUM

2008

Media campur

DIMENSI

Dimensi bervariasi

Karya ini menjadi debut karya kolaborasi Haryadi Suadi, ayah, dan putranya, Radi Arwinda. Haryadi Suadi dikenal sebagai seniman yang konsisten meneladani visualisasi ragam hias Cirebon melalui karya-karya grafis cukil kayunya. Praktik artistik Haryadi tidak hanya melestarikan ragam-ragam hias itu, melainkan juga memelihara nilai-nilai yang disimbolisasikan oleh mereka.

Dalam falsafah budaya Cirebon maupun Jawa “katurangganing manungsa” adalah sebuah ilmu untuk mengenali karakter manusia melalui bentuk-bentuk fisiknya. Katurangganing Manungsa membantu orang-orang pada masa pra modern untuk mengidentifikasi orang lain dalam beragam keperluan: pekerjaan, pemerintahan, dan sebagainya.

Pembentukan ilmu pengetahuan oleh masyarakat pra-modern seperti di Cirebon dan Jawa adalah berdasarkan pengalaman empirik yang berlaku juga untuk menentukan musim tanam. Karya Katurangganing Manungsa berwujud sesosok patung laki-laki telanjang yang memiliki rajah di sekujur tubuh berisi doa-doa dan harapan untuk kebaikan. Rajah-rajah ini diadaptasi oleh Haryadi Suadi dari imaji vernakular untuk akupuntur dan isim (jejimat berupa lembaran kertas yang bertuliskan doa-doa dalam huruf arab gundul). Sentuhan artistik Radi Arwinda hadir secara khas melalui pengemasan patung ini dalam kotak akrilik yang menyarankan figur ini sebagai action figure. Radi Arwinda juga dikenal sebagai seniman yang konsisten meneladani visual tradisi Cirebon dan menerjemahkannya ke dalam visualisasi-visualisasi budaya populer.

Cari tahu lebih banyak mengenai pameran duo mereka berjudul Purwa Wiwitan Daksina Wekasan (2012) melalui katalog pameran yang dapat dibaca di Pustaka Selasar.