Deden Sambas

Siklus Sirkus

TAHUN

MEDIUM

2000

Cat akrilik, pensil warna, sablon sintesis

DIMENSI

145 x 290 cm

Pada tahun 2000 Sunaryo menggagas program lokakarya dan residensi yang menyertakan 4 seniman “non-akademik”. Hasil karya dari program tersebut dipamerkan di Galeri Soemardja ITB dan Edwin’s Gallery Jakarta, dengan judul “Logika Labil”. Sebagian karya pula menjadi koleksi dari Sunaryo dan dipamerkan secara berkala di SSAS. Deden Sambas adalah salah satunya.

Deden Sambas bersama sejumlah koleganya juga menggagas “Gerakan Seni Rupa Koran” pada dekade 1990-an. Ada salah satu ciri yang lugas dari gerakan ini, yakni memang menampilkan visual jajaran teks ala koran. Penampilan ala koran itu didapat dari teknik cetak manual yang kemudian diaplikasikan pada kanvas.

Demikianlah, pada lukisan “Siklus Sirkus” ini latar belakangnya didominasi jajaran teks ala koran yang didapat dari teknik “sablon sintetis”. Di latar depan, terutama adalah abstraksi figur atau kepala manusia khas Deden Sambas. Kadang abstraksi kepala manusia itu seperti ditempatkan pada sebuah kotak. Barangkali itu isyarat tentang keterhubungan antara manusia dengan dengan segala khazanah teks yang mengabstraksi dunia.

Teknik cetak ala Gerakan Seni Rupa Koran yang manual itu, ternyata masih bisa terlihat relevansinya hingga hari ini. Di tengah arus informasi yang sangat digital dan masif, segala teks melingkupi tubuh manusia dengan cara yang sudah diperingatkan oleh banyak orang dari dekade-dekade lampau. Seniman seperti Deden Sambas, telah menggeluti masalah ini sejak lama, uniknya dengan caranya yang manual.

Cari tahu lebih banyak tentang Deden Sambas dan karyanya melalui katalog pameran tunggalnya berjudul Horison Terasering (2003) yang dapat dibaca di Pustaka Selasar.