Welcome to the Machine:
Experimentations and Abstractions

10 September –
10 Oktober 2021

Bale Tonggoh,
Selasar Sunaryo Art Space

Road to Bandung Photography Triennale:
An International Photography Exhibition




Kurator:
Henrycus Napitsunargo (ID)


Seniman:
Anh-Thuy Nguyen (US), Iswanto Soerjanto (ID), Lavender Chang (SG), Michael Binuko (ID), Naraphat Sakarthornsap (TH), Piyatat Hemmatat (TH), Sabrina Asche (DE), Shiho Yoshida (JP), Sophie Chalk (US), Yixiu Guo (SG).



07.jpg

Pada awal abad 20 praktek fotografi mulai memasuki era eksperimentasi dalam pendekatan visual. Pengaruh beberapa gerakan avant-garde di dunia seni turut membaur bersama proses eksperimen kreatif. Di sisi lain fotografi juga dapat disebut memiliki cara sendiri dalam proses kekaryaan seni dibanding dengan medium lain seperti seni lukis maupun seni grafis. Pada proses image making, eksplorasi teknik dan material menjadi wilayah eksperimen sebagai upaya dalam menampilkan visual yang tidak bisa dilihat oleh mata telanjang. Image fotografi yang bisu seakan harus dapat mengungkapkan satu hal dalam keheningan, hal tersebut menantang para seniman untuk menilik lebih jauh potensi media fotografi.

Nilai dari karya fotografi sangat dipengaruhi oleh proses pembentukan image yang dihasilkan dari kinerja mekanis, kimia, material, dan penemuan teknologi mutakhir seperti di era digital saat ini. Komponen-komponen tersebut menjadi materi eksperimen para seniman untuk dieksplorasi secara bebas, mulai dari inkonstruksi, dekonstruksi, rekonstruksi, jukstaposisi, hingga hibridisasi. Beberapa pendekatan dari medium lain—terutama seni grafis dan seni lukis—seringkali dicerabut bagiannya untuk diadopsi oleh para seniman dalam menghasilkan karya eksperimentasi fotografi. Zeitgeist yang mewakili proses kekaryaan eksperimentatif semacam itu sangat nampak pada saat pasca Perang Dunia I. Periode tersebut dikenal sebagai “era mesin” yang telah memberikan kesadaran pada masyarakat dunia mengenai dampak revolusi industri melalui kehadiran mesin.

"Praktek-praktek fotografi di era tersebut seakan mencoba menjauh dari sifat mimesis maupun indeksikal. Sebagian besar hasil eksperimen dalam memunculkan image tersebut cenderung abstrak dan menjauh dari makna konvensional. Teknik-teknik seperti photogram, multi exposure, photomontage, photogravure, solarization, serta yang lainnya; seakan menjadi alternatif eksperimen dalam menampilkan image non ekplisit. Di samping eksplorasi material dan teknik, keterpesonaan pada konstruksi mesin juga sangat memengaruhi nilai estetika visual pada image fotografi yang dihasilkan."
Bukan tanpa sebab jika para seniman di era tersebut melakukan suatu gerakan yang eksploratif dalam menanggapi berbagai sajian teknik mupun material saat proses kekaryaan fotografi. Sebenarnya hal tersebut didukung oleh tendensi yang berupaya agar fotografi dapat direkognisi sebagai salah satu medium dalam berkarya seni. Sementara hasil eksperimentasi yang telah dilakukan diharapkan mampu untuk memunculkan “aura” pada karya fotografi.

Sederet nama besar seperti Alexander Rodchenko, Lazlo Moholy-Nagy, El Lissitzk dan Man Ray banyak melahirkan karya seni berbasis fotografi yang otentik dengan berbagai eksperimentasinya. Beberapa dari mereka justru berupaya membuat karya yang menghilangkan sifat reproduksi dari fotografi. Dengan kata lain, craftmanship dalam proses berkarya dengan media fotografi masih menjadi alternatif utama untuk membangun “aura” pada setiap karya di era ini.
Di era seni kontemporer saat ini, sebenarnya tradisi eksperimen dari era mesin tersebut masih terus dilembagakan dan dilestarikan oleh para seniman berbasis fotografi. Namun, pemaknaan terhadap istilah “mesin” justru menjadi lebih luas dan kompleks. Bisa jadi istilah tersebut merupakan metafora yang merujuk pada sistem, industri, standarisasi, dehumanisasi, denaturalisasi, serta makna lainnya. Fotografi yang dilahirkan di era mesin dianggap tepat untuk merespon fenomena sebagai dampak dari revolusi industri itu sendiri.

Pameran kali ini merupakan representasi yang abstraktif dari metafora personal yang dibangun kokoh oleh para seniman untuk merespon terbentuknya “kehidupan laksana mesin” sebagai dampak dari aneka industri saat ini. Karya para seniman ini seakan merecah elemen-elemen dasar fotografi lalu merekonstruksinya kembali untuk mempertanyakan, mengkritik, dan menggeser perspektif terhadap makna “mesin” hari ini.

 

 

Untuk informasi lebih lanjut, mohon hubungi:

Christine Toelle

Program Manager

program@selasarsunaryo.com

0813 2000 9997