UNORIGINAL SIN: Art in the Expired Field

21 Maret –
13 April 2014

Ruang B & Ruang Sayap,
Selasar Sunaryo Art Space

Pameran Tunggal Asmudjo J. Irianto
07.jpg

Unoriginal Sin merangkum pandangan kesenirupaan yang dipercaya oleh Asmudjo Jono Irianto (lahir di Bandung, 1962) hari-hari ini, yang mewujud pada karya-karya (fotografi, lukisan, patung dan instalasi) yang telah ia buat sepanjang tahun 2013 hingga awal tahun 2014 ini.

Asmudjo Jono Irianto adalah sosok bersegi banyak. Ia adalah seorang kurator independen, yang telah memiliki reputasi dalam medan seni rupa kontemporer Indonesia. Ia juga juga seorang pengajar yang memilliki karakter partikular di Jurusan Seni Rupa dan Desain, Insititut Teknologi Bandung. Ia juga menjadi ahli keramik dan kriya yang kerap membagi pengetahuannya serta menjadi konsultan pemerintah untuk mengadakan pameran, seminar dan lokakarya. Ia juga tertarik dengan dunia desain dan arsitektur yang mengondisikannya untuk mendalami aspek-aspek teknis bidang-bidang itu. Terakhir, hingga kini ia juga aktif sebagai seniman yang masih diundang untuk mengikuti beberapa pameran bersama. Unoriginal Sin: Art in the Expired Field menjadi pameran tunggal ketiganya setelah Kleptosigns (2000) dan Debt Store (2002).


"Segi-segi itu saling mempengaruhi satu sama lain, setidaknya pada pameran ini. Karya-karya dalam pameran ini menjadi implementasi selera personalnya pada teknik penciptaan karya seniman-seniman seperti Christian Boltanski, Kara Walker, Chuck Close, Martin Puryear dan lain-lain."


topi naga - 2017.jpg
Dibantu sejumlah asistennya, Asmudjo secara rinci menciptakan beberapa karya dengan penampakan formal yang mendekati karya seniman-seniman tersebut. Sisi perfeksionis pada peniruan itu secara ‘ironis’ diakui Asmudjo hanya berdasarkan atas selera personalnya sendiri. Posisinya sebagai seniman dalam pameran ini benar-benar dimanfaatkannya untuk berjarak, dengan tidak membicarakan hal-hal konseptual mengenai karyanya, apalagi untuk menjustifikasi karya-karyanya sendiri sebagai sebuah karya yang berwacana tertentu. Sebagai seorang seniman ia tidak ingin menempatkan diri sebagai ‘kurator’.
Karya-karya apropiasi itu juga ditampilkan secara bermain-main, mengolok-olok dan sinis. Selain itu, mereka juga menampilkan sosok Asmudjo dengan beberapa pose dan gestur yang mewakili kualitas-kualitas khas ‘selera rendah’ seperti seronok, sarkastik, sensasional, kampungan dan lain-lain. Tindakan mengapropriasi, meniru dan merujuk tersebut menggarisbawahi judul pameran ini, bahwa ia sebagai perupa memiliki kecenderungan untuk terpengaruh oleh perupa lain serta meminjam ikon, gagasan dan pengetahuan dari bidang-bidang kehidupan yang lain.
Penjelasan di atas mungkin tidak mampu merangkum seluruh aspek kesenimanan Asmudjo Jono Irianto, terlebih untuk dirinya sendiri, yang selalu menolak dan menepis segala justifikasi pada karya-karyanya dan pandangan-pandangannya atas kesenirupaan.

 

 

Untuk informasi lebih lanjut, mohon hubungi:

Adytria Negara

Program Manager

program@selasarsunaryo.com

+62 851-9500-4505