Things Happen When We Remember

6 – 28 September 2014

Ruang B & Ruang Sayap,
Selasar Sunaryo Art Space

Pameran Tunggal FX Harsono
07.jpg

Keterlibatan FX Harsono dalam Manifesto Desember Hitam (1974) dan Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia (GSRBI, 1975 – 1979) telah menempatkan namanya sebagai salah satu seniman pembaharu dalam khazanah praktik seni di tanah air. Ia termasuk seniman yang mempopulerkan penggunaan benda-benda temuan dan sehari-hari secara konkret dan langsung. Setelah GSRBI bubar, Harsono termasuk salah satu dari sedikit eksponen yang paling aktif dan konsisten berkarya hingga hari ini. Selama empat dasawarsa, ia telah menghasilkan ratusan karya dengan berbagai medium – instalasi, lukisan, cetak grafis, video dan performans – yang dipamerkan dalam berbagai perhelatan besar di dalam dan luar negeri. Sebagian karyanya telah menjadi bagian dari koleksi museum-museum besar di Asia dan Pasifik.

"Pameran "Things Happen When We Remember" (Kita Ingat Maka Terjadilah) mempertemukan sejumlah karya instalasi dan video Harsono dalam empat tahun terakhir (2011 – 2014) dalam sebuah presentasi baru. Pemilihan karya-karya ini tidak hanya dimaksudkan untuk menunjukkan suatu fokus tematik yang semakin menguat dalam karya-karya Harsono. Seluruh karya dalam pameran ini adalah sampel dari sebuah proses kerja kreatif yang khas."


topi naga - 2017.jpg
Sekurang-kurangnya sejak awal 2000-an, perubahan orientasi mulai nampak jelas pada karya-karya Harsono. Persoalan diri dan ingatan-ingatan personal menjadi subjek baru dalam karya-karya mutakhirnya. Berangkat dari pertanyaan-pertanyaan tentang identitas diri dan keluarganya, ia menelusuri kembali berbagai tempat, peristiwa, kisah-kisah (dalam buku-buku sejarah, mitos ataupun tuturan) dan artefak-artefak yang ia anggap mewakili narasi sejarah tentang etnis Tionghoa di Indonesia. Harsono menggali narasi-narasi yang terpendam dan terepresi oleh sejarah besar. Ia menerangi kegelapan yang menyelimuti kisah para korban kekerasan, teks-teks sastrawi yang hilang, artefak-artefak budaya yang kehilangan makna dan terlupakan.
Proses pengerjaan karya-karya dalam pameran ini melibatkan observasi dan metode ‘riset’ yang ia ciptakan sendiri. Semenjak pertengahan 2000-an proses pengerjaan karya-karya Harsono selalu dimulai dengan perjalanan ke suatu tempat, bertemu dengan masyarakat sekitar, lalu mencari informasi sebanyak-banyaknya melalui wawancara dan studi pustaka. Yang menarik, meskipun masih berdasar pada pengamatan terhadap kenyataan-kenyataan sosial, karya-karya ini masih menunjukkan suatu pengolahan dunia imajinasi dan pengalaman batin yang subjektif. Narasi tentang sejarah etnis Tionghoa di Indonesia ia kemas dengan metafor-metafor yang kaya dan menggugah. Mewakili perlintasan ulang-alik antara ‘data’ dan ‘imajinasi’, antara objektivitas dan subjektivitas, proses kreatif Harsono melahirkan tafsir artistik yang menyentuh tentang sejarah dan ingatan.

 

 

Untuk informasi lebih lanjut, mohon hubungi:

Adytria Negara

Program Manager

program@selasarsunaryo.com

+62 851-9500-4505