top of page

Parabhose

8 – 29 Januari 2023

Bale Tonggoh,
Selasar Sunaryo
Art Space

Presentasi karya Akademik Ady Setyawan
07.jpg

Pameran ini bermula dari karya Tugas Akhir Ady Setyawan di Program Magister Desain, Fakultas Seni Rupa & Desain Institut Teknologi Bandung. Setyawan pada dasarnya merancang kampanye kesadaran publik melalui karya eksperimental berbentuk video mapping interaktif yang memancing pengunjung untuk berpartisipasi.

"Melalui pendekatan ini, kesadaran akan permasalahan yang diangkat tidak sekedar dipaksakan lewat tontonan dan imbauan, namun dibangun bersama dengan dialog aktif melalui partisipasi dan pengalaman pengunjung. Dengan ini, diharapkan dampak yang dihasilkan akan lebih efektif."
topi naga - 2017.jpg
Lokasi kasus adalah Wakatobi, sebuah kabupaten kepulauan di Provinsi Sulawesi Tenggara. Wakatobi terdiri dari pulau-pulau Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko. Kita tahu, salah satu masalah dari peradaban modern adalah sampah. Terutama sebab mental manusia yang egois, sampah cenderung terbawa ke laut.
Pantai-pantai di daerah wisata seringkali kotor sebab para turis membawa sampah dan sampah yang ada di laut hanyut kembali ke tepian.

Penelitian Setyawan mengantarya pada ungkapan "To tambu'e mo alaa". Sebuah istilah di Hedongka yang berarti 'Kita angkut saja ke darat', sehingga benda-benda yang ditemukan di pinggir pantai tidak
hanyut kembali.
Lebih lanjut Setyawan memaparkan:

"Dalam proyek bernama Hedongka Project, anak-anak muda Komunitas Katutura dari Tomia, Wakatobi, melakukan aktivitas Hedongka, menyisir pantai, memungut sampah-sampah plastik. Mereka menuruti prinsip Hedongka soal memanfaatkan barang-barang hasil pungutan itu, namun tidak dengan membuatnya jadi barang untuk kebutuhan sehari-hari, melainkan dijadikan sebagai kerajinan dan karya seni. Katutura percaya bahwa semua kemungkinan dan upaya menekan jumlah sampah yang masuk ke Wakatobi mesti dilakukan, sekecil apapun itu".

Parabhose dalam bahasa setempat berarti "oleh-oleh", Melalui istilah tersebut Setyawan mengalih-wahanakan prinsip Hedongka, mengemasnya dengan memanfaatkan media interaktif, menghubungkannya dengan generasi terkini. Melalui alih wahana ini, prinsip Hedongka dihadirkan ulang melalui simulasi digital, sehingga dapat dialami sendiri oleh pengunjung. Pendekatan ini tidak hanya menjangkau lintas generasi, juga memungkinkan prinsip itu bergaung di ruang-ruang yang jauh dari Tomia Wakatobi. Kiranya itulah sebuah "kampanye" yang "artistik" dan (semoga) "berdampak".

Ucapan Terima Kasih:

Kara penelitian ini terwujud berkat bantuan program beasiswa Unggulan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia, Magister Desain FSRD ITB, konsentrasi digital media.

 

 

Untuk informasi lebih lanjut, mohon hubungi:

Adytria Negara

Program Manager

program@selasarsunaryo.com

+62 851-9500-4505

bottom of page