non/place

15 Oktober –
14 November 2021

Bale Tonggoh,
Selasar Sunaryo Art Space

Pameran Tunggal Mariam Sofrina
07.jpg

Dipersiapkan selama hampir tiga tahun, pameran ini mengetengahkan delapan keping lukisan cat minyak berformat panoramik yang disatukan oleh bentang cakrawala tunggal sepanjang empatbelas meter. Tidak hanya menegaskan kembali kesetiaan Mariam pada fotorealisme yang ditekuninya selama sepuluh tahun terakhir, pameran ini juga mewakili eksplorasi mutakhirnya atas lansekap, sebagai pokok-soal yang masih menantang untuk para seniman kontemporer.

Sudah lama citraan lansekap tidak lagi merepresenasikan ‘alam’ yang asli. Jika para pelukis Romantik menggambarkan alam sebagai entitas yang tak mungkin terkontrol, citraan lansekap kontemporer justru merepresentasikan kuasa penuh manusia atas alam dalam epos antroposen. Gejala itu sejalan dengan eksploitasi alam yang berlangsung ekstrim sepanjang abad ke-20. Tak ada lagi terra incognita: Karena satelit, fotografi udara dan mesin peramban internet abad ini telah memarka tempat-tempat di setiap penjuru bumi, mentransformasikannya sebagai citra-citra, atau angka-angka kordinat pada layar berpendar. Kita menikmati lansekap melalui media sosial, melalui gambar-gambar swafoto yang diunggah para turis dan topofilis. Kita juga menemui alam dalam bentuk realisme yang sintetik, dalam citraan fotografis dan film-film yang hampir sepenuhnya diolah secara digital. Dalam kerangka itu, alam menjadi subordinat, kalau bukan objek, dari kebudayaan.


"Lukisan-lukisan lansekap Mariam Sofrina dalam non/place lahir persis di tengah latar ruang dan waktu semacam itu. Dalam pameran ini, lansekap tidak hanya menjadi jalan masuk untuk membicarakan konsep- konsep semacam ‘alam’, ‘ruang’ dan ‘tempat’, tapi juga seni lukis lansekap itu sendiri sebagai pokok-soal. Lebih dari itu, eksperimen Mariam dengan format dan ukuran kanvas, pemilihan objek-objek yang dilakukan dengan seksama, ditambah dengan teknik yang terus ia dalami selama sepuluh tahun terakhir, menandai sebuah pencapaian yang menarik."
topi naga - 2017.jpg
Tentang Mariam Sofrina

Mariam Sofrina adalah seorang seniman yang berbasis di Bandung. Ia lulus dari Studio Seni Lukis, Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung pada 2006. Selama hampir sepuluh tahun ia bekerja sebagai desainer dan ilustrator buku-buku anak di berbagai penerbitan di Bandung dan Jakarta. Sejak 2002, ia telah aktif ambil bagian dalam berbagai pameran bersama baik di dalam dan luar negeri, di antaranya; Pameran Perupa Perempuan, Galeri Soemardja ITB, Bandung, 2004; Bandung Initiative #4, Roemah Roepa Gallery, Jakarta, 2009; Islam and Identity, Islamic art section pada Bazaar Art Jakarta - Indonesia Art Festival, Pacific Place, Jakarta, 2009; Bandung New Emergence vol.3, Selasar Sunaryo Art Space, Bandung, 2010; Halimun, Pameran Pembukaan Lawangwangi Art and Science Space, Bandung, 2010; Urban Archaeology, pameran trio bersama Anggoro Prasetyo dan Triyadi Guntur Wiratmo, Emmitan CA Gallery, Surabaya, 2010; Homo Ludens #2, Emmitan CA Gallery, Surabaya, 2011; Pameran Pemenang Bandung Contemporary Art Award, Lawangwangi Art and Science Space, Bandung, 2011; dan Mapping the Unmapped, Pameran Bersama Seniman Indonesia dan Jepang, diorganisir oleh AQA Projects - Mahasiswa Program Master pada Fakultas Sejarah Seni, Universitas Kyushu, Fukuoka, Jepang, 2014. Pameran tunggal pertamanya, The Archetypal Landscape, digelar oleh Galeri CG, di DiaLoGue Art Space, Jakarta, pada 2013.
Ia termasuk ke dalam 25 Peserta Terbaik Bandung Contemporary Art Awards yang diselenggarakan oleh Artsociates Bandung, 2011, dan beberapa penghargaan lainnya adalah Mahasiswa Terbaik Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung, 2005; termasuk juga Juara Kedua Ganesha Prize - Institut Teknologi Bandung Best Student of the Year, 2005. Ia juga pernah memenangkan berbagai penghargaan dalam bermacam kompetisi ilustrasi dan komik di Indonesia.
Sejak sekira 2008, ia memfokuskan diri pada seni lukis cat minyak, terutama di dalam genre fotorealisme dan hiperrealisme. Karya-karyanya kebanyakan menggambarkan situasi kota dan bentang alam di dan sekitar kota kelahirannya, Bandung. Beberapa seniman besar yang menginspirasinya antara lain pelukis romantik Jerman Caspar David Friedrich, master seni lukis Indonesia S. Sudjojono, dan pembuat film asal Soviet, Andrei A. Tarkovsky.

 

 

Untuk informasi lebih lanjut, mohon hubungi:

Adytria Negara

Program Manager

program@selasarsunaryo.com

+62 851-9500-4505