Jejak Neo-Dekolase

15 Februari –
3 Maret 2019

Bale Tonggoh,
Selasar Sunaryo Art Space

Pameran Tunggal Dadang Sudrajat
07.jpg

Proyek seni lukis neo-dekolase Dadang Sudrajat menempatkan secara dekat praktik melukis dengan pemikiran filsafat, khususnya tradisi filsafat Islam yang disebut mistisisme Islam (tasawuf). Cara ini berarti menghubungkan praktik seni rupa dan agama (Islam). Seni dan agama sering kali dianggap sebagai dua jalan yang berpisah, bahkan tak jarang keduanya dipahami bertentangan. Namun, ketika keduanya mampu beriringan maka hanya ada satu jalan yang terlalui yang disebut spiritualitas.

"Proyek neo-dekolase mengandung dimensi maknanya yang penting ketika seseo- rang bisa memaklumi hubungan erat antara karya seni (sebuah lukisan) dengan bidang pemikiran filsafat. Hubungan antara seni, termasuk seni lukis, dengan pemikiran filsafat berlaku saling membu- tuhkan dan melengkapi."
Seni lukis abstrak tak bermaksud menggambarkan realitas tetapi membangun hubungannya terhadap realitas hidup melalui kerangka penghayatan hukum dan prinsip kelangsungan hidup itu sendiri. Karya-karya neo-dekolase adalah hasil dari proses pembongkaran ‘lapisan luar’ pada bidang kanvas sehingga memunculkan lapisan lain yang terlihat seolah datang dari ‘lapisan dalam’.
Sudrajat memahami subjek diri manusia sebagai ‘pusat’ makna realitas dengan caranya yang khas. Sebuah lukisan, pada akhirnya, bagi Dadang Sudrajat, adalah soal persaksian terhadap keadaan manusia dan fitrah kemanusiaannya yang sejati hingga mampu menghargai kaitan antara: tubuh dan jiwanya, bentuk dan maknanya, serta eksistensi dan esensi yang sebenarnya.

 

 

Untuk informasi lebih lanjut, mohon hubungi:

Christine Toelle

Program Manager

program@selasarsunaryo.com

0813 2000 9997