Berburu dan Berguru

17 September –
7 November 2021

Ruang Sayap,
Selasar Sunaryo Art Space

Perjalanan Yori Antar dan Rumah Asuh




Kurator:
Danny Wicaksono


Pameran ini merupakan hasil kerjasama antara
Selasar Sunaryo Art Space, Rumah Asuh dan Yayasan Tirto Utomo Disponsori oleh PT. Kayu Lapis Indonesia dan Creative Lighting Asia Didukung oleh Nusae dan Studio Dasar



07.jpg

Bersama kelompok “Arsitek Muda Indonesia” (AMI), Yori Antar jadi figur yang berpengaruh. Desain-desainnya memberikan angin segar bagi dunia arsitektur Indonesia, di bawah rezim Orde Baru. Lepas tahun 2008 ketika ia mulai mendirikan Rumah Asuh dan kerja-kerja yayasan ini mulai memperlihatkan hasil nyata, tidak lagi ia dikenal sebagai seorang arsitek saja. Kerja Rumah Asuh, adalah kerja yang tidak lazim di Indonesia, hari-hari ini. Mungkin, beberapa akan menyebut kerja ini sebagai kerja “preservasi” atau upaya “penyelamatan”. Namun dalam kerangka pikir seperti ini, ada yang tersirat bahwa mereka yang “dipreservasi” dan “diselamatkan” adalah mereka yang tidak berdaya, telah tersesat, atau benar-benar tidak memiliki kemampuan apapun lagi untuk bisa memperbaiki diri mereka sendiri.

Dalam kerja Rumah Asuh, kerja mereka justru dimulai dengan pengakuan bahwa ada kekayaan pemikiran yang berharga dan perlu dilanjutkan keberadaannya. Tentu ada yang pihak yang akhirnya merasa bahwa mereka telah dibantu dan ada pihak yang merasa bahwa mereka telah membantu. Namun, jika kita melihat lepas dari perspektif itu, kerja ini sebetulnya adalah kerja kolaborasi dari semua pihak yang sama berdayanya untuk menyelamatkan pengetahuan arsitektur yang telah hidup melampaui beberapa generasi, yang tidak pendek.


Yori Antar, di sisi yang lain, adalah penduduk kepulauan ini yang mendapatkan pendidikan dan pengetahuan arsitekturnya di alam kehidupan Republik. Ia paham bagaimana otoritas negara ini berjalan. Ia juga mengerti bagaimana kehidupan baru yang tumbuh di alam baru ini berkembang. Ia pun kemudian dapat mengenal pihak-pihak yang memiliki daya berbeda, yang sama pedulinya pada kekayaan budaya yang kini berada di dalam otoritas Republik Indonesia. Ia adalah tipe arsitek yang lahir di masa modern tanah ini, bagian dari mereka yang mewakili genre “Arsitek Indonesia”.
Lewat Rumah Asuh, Yori Antar kemudian menemukan formula untuk mengkolaborasikan daya dari berbagai pihak, agar kebudayaan-kebudayan ini dapat berlanjut dan berkembang mengikuti alam kehidupan masa kini. Belum terlihat ada cara lain yang sama jitunya dengan cara-cara yang dijalankan oleh Rumah Asuh, dalam melanjutkan keberadaan budaya bangun etnis Indonesia. Cara-cara yang efektif dan efisien, bukan hanya untuk melanjutkan dan mendokumentasikan kebudayaan-kebudayaan ini, namun juga untuk menghadirkan kembali yang telah hilang.

Pameran ini berusaha untuk mengupas hasil kerja Rumah Asuh selama 13 tahun masa berdirinya. Dokumentasi yang dibuka, penjelasan tipe proyek yang mereka kerjakan, serta tiap individu yang berada di balik kerja YRA, dapat anda temukan tercetak di antara materi pameran ini. Tujuannya adalah untuk membagi formula kerja yang telah ditemukan oleh Yori Antar dan YRA dalam melanjutkan keberadaan dan perkembangan kebudayaan bangun arsitektur etnis di Indonesia.
Yori Antar adalah seorang arsitek berkebangsaan Indonesia, yang menempuh pendidikan arsitekturnya di Jurusan Arsitektur Universitas Indonesia, pada tahun 1984. Nama panjangnya adalah Gregorius Antar Awal. Ayahnya, Han Awal (alm) adalah salah satu arsitek modern Indonesia dengan badan-kerja yang panjang dan perhatian yang besar pada konservasi bangunan bersejarah. Berdua mereka menjalankan sebuah firma arsitektur, bernama Han Awal and Partners (HAP) di daerah Bintaro, Tangerang Selatan, Banten.
Sebagai seorang arsitek yang mendapatkan pendidikan arsitekturnya di masa Indonesia modern, Yori Antar adalah seorang arsitek yang juga membuat desain-desain yang dipesan oleh klien-klien yang datang padanya. Ia tetap memiliki bada-kerja (portofolio) yang terbentuk dari berbagai macam tipologi arsitektur dan ruang publik. Mulai dari rumah tinggal pribadi, bangunan universitas, bangunan kebudayaan, hingga ruang publik berbagai skala, di berbagai kota di Indonesia. Yang membuatnya berbeda dari kebanyakan arsitek modern yang ada di Indonesia, adalah perhatiannya yang besar pada arsitektur yang dihasilkan oleh masyarakat adat, yang ada di dalam wilayah Indonesia.

Di tahun 2008, Yori Antar mendirikan Rumah Asuh, yang fokus kerjanya adalah untuk membantu masyarakat adat yang ada di Indonesia. Sebagian besar bantuan yang diberikan ada dalam bidang arsitektur. Ia menggunakan sumber daya, pengaruh dan jejaring yang Ia miliki, untuk menyelesaikan masalah-masalah arsitektural yang dihadapi oleh masyarakat adat yang memerlukan. Cara kerja yang seperti ini unik. Sebelumnya, mungkin sudah pernah ada yang melakukan upaya serupa, namun skala bantuan dan dampak yang dihasilkan oleh Rumah Asuh, adalah hasil kerja yang belum pernah ada presedennya sebelumnya, di Indonesia modern.

 

 

Untuk informasi lebih lanjut, mohon hubungi:

Christine Toelle

Program Manager

program@selasarsunaryo.com

0813 2000 9997