Bangunan

Pembangunan Selasar Sunaryo Art Space (SSAS) yang mencakup area seluas 5.000 meter persegi ini merupakan hasil kerjasama antara Sunaryo dan arsitek Dr. Baskoro Tedjo, dimulai pada tahun 1994 selama kurang lebih 4 tahun. Sunaryo secara khusus meminta agar desain bangunan memenuhi tiga persyaratan ini:

2.jpg

"Pertama, gedung balai didesain agar dapat memenuhi fungsinya sebagai tempat yang dapat memamerkan karya-karya seninya. Kedua, karakter desain secara keseluruhan menggunakan elemen-elemen arsitektur khas Jawa Barat. Dan ketiga, yang menjadi syarat paling menantang adalah bahwa desain diinginkan secara implisit merepresentasikan karakteristik dan identitas karya-karya Sunaryo."

Menempati topografi di kawasan perbukitan alami Bandung Utara dengan lahan yang cukup curam, secara keseluruhan, Dr. Baskoro Tedjo melakukan pendekatan dengan rasionalitas untuk “menciptakan struktur puitis yang akan berdialog secara positif dengan lahan.” Bentuk dasar bangunan SSAS terinspirasi oleh bentuk "kuda lumping” sebagai salah satu artefak budaya tradisional Indonesia dan kata "Selasar" mencerminkan konsep desain utama yaitu: untuk sebuah ruang terbuka yang menghubungkan satu ruang dengan yang lain, menghubungkan karya seni dengan pengunjungnya dan untuk menghubungkan satu budaya dengan yang lainnya. “Selasar” juga merupakan sebuah ruang 'terbuka' dalam arti bahwa galeri menyambut berbagai lintas komunitas seluas mungkin.

IMG_0035.png

“Salah satu kunci sukses dalam perancangan SSAS adalah kemampuannya untuk tumbuh mengikuti waktu. SSAS telah mengalami peningkatan kualitas spasialnya, sebagai hasil dari reinterpretasi konstan Sunaryo terhadap elemen-elemen arsitektur, mengintervensinya dengan karya seni baru yang menguatkan setiap sudut dan detail-detail bangunan. Seiring waktu berlalu, bangunan terlihat semakin matang dengan bertambah besarnya pepohonan yang ditanam di sekitarnya. SSAS merupakan contoh bahwa arsitektur dapat bertumbuh dalam jangka waktu tertentu karena kebutuhan fungsi baru. “

– Dr. Baskoro Tedjo

MAKET02.JPG

Sejak peresmiannya, SSAS kerap menjadi objek studi untuk mahasiswa arsitektur dari berbagai universitas di seluruh Indonesia. Kunjungan serupa bahkan telah dimulai selagi proses konstruksi berlangsung. Bangunan ini dianugerahi Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Award kategori fasilitas institusi kebudayaan pada tahun 2002 sebagai bangunan yang memiliki kualitas keintiman dalam dialog dengan lingkungannya.

Maket Selasar Sunaryo Art Space oleh Siswadi Djoko WM

PANEL3_.jpg

Tentang Baskoro Tedjo

Dr. Baskoro Tedjo adalah salah satu arsitek Indonesia yang dikenal sangat aktif berpartisipasi dan memenangkan sayembara desain. Sebagian besar karya arsitek yang juga mengajar di Departemen Arsitektur institut Teknologi Bandung ini mendapatkan penghargaan dari semua sayembara yang ia ikuti. Lahir di Semarang pada tahun 1959, ia lulus dari Institut Teknologi Bandung pada tahun 1982 dan menjadi salah satu staf pengajar di universitas yang sama. Ia kemudian melanjutkan studi arsitekturnya di Polytechnic Insitute of New York dan lulus pada tahun 1989. Ia menerima beasiswa OECF untuk melanjutkan studi ke program tingkat doktoral di Universitas Osaka, Jepang dan lulus pada tahun 1999, sebelum akhirnya mendirikan Baskoro Tedjo & Associates.


Beberapa karya-karya monumentalnya yang dibangun meliputi Perpustakaan Proklamator (2004, Blitar, Jawa Timur), Campus Center Institut Teknologi Bandung (2005, Bandung, Jawa Barat), Menara Kalla (2009, Makassar, Sulawesi),  Pusat Budaya Indonesia (2019, Dili, Timor Timur) dan Gelanggang Olah Raga di Timika, Papua.

Selain menciptakan banyak karya, ia juga telah menulis dalam sebuah majalah Jepang berjudul "The Beauty of Light and Empty Composition” dan menerbitkan artikel dalam buku berjudul Local Wisdom in Urban Planning and Design to Realize Sustainable Urban Architecture, yang diterbitkan di Malang pada tahun 2009. Buku terakhir yang ia tulis dan masih menjadi best-seller berjudul "Baskoro Tedjo: Extending Sensibilities Through Design (Architectural Works 1997-2002)". Meneruskan kesuksesan buku ini, ia berencana untuk menerbitkan buku kedua tentang proses dan ide desain.

Book Scan 06.JPG

Baskoro Tedjo: Extending Sensibilities Through Design (Architectural Works 1997 - 2012) dapat dibeli di

IMAJI Books atau Tokopedia.

Ruang & Fasilitas

2018 A - SSAS sunaryo 6.jpg

Ruang A

Dengan lantai kayu dan pemanfaatan cahaya alami, ruang pameran utama di lantai atas ini kerap digunakan untuk memamerkan karya-karya Sunaryo atas dasar periodisasi dan nilai kesejarahannya. Ruang ini juga menghadirkan pameran seniman Indonesia dan luar negeri berskala besar.

05.JPG

Ruang B

Di lantai bawah, terdapat ruang pamer dalam untuk menampilkan koleksi tetap Selasar Sunaryo Art Space, pameran sementara, lokakarya, pemutaran film dan program seni visual lainnya.

04.JPG

Ruang Sayap

Berfungsi seperti Ruang B, ruang pamer ini berukuran lebih kecil dan intim dibandingkan dengan dua ruang pamer sebelumnya. Bentuk dan ukuran ruangan serta tingkat kemiringan yang unik pada plafon ruang ini mendukung penampilan instalasi khas-tapak (site-specific) oleh beberapa seniman.

7. monolog inggit, 21 desember 2011 .JPG

Amphiteater

Panggung terbuka ini dibangun di atas lahan berkontur miring dan dirancang secara khusus dengan pengaturan akustik alami. Dengan tempat duduk yang bertingkat, arena pertunjukan ini berkapasitas 250 orang penonton dan dapat digunakan untuk pertunjukan teater, konser musik, pembacaan puisi dan program seni pertunjukan lainnya.

1. java's machine, 20 februari 2011.JPG

Bale Handap

Aula bawah ini adalah ruang serbaguna yang dapat berfungsi untuk menghadirkan program khusus seperti diskusi, seminar, pemutaran film dan lokakarya. Terinspirasi oleh bangunan tradisional khas Jawa dengan teras yang terbuka, ruang ini terletak secara terpisah dengan bangunan utama dan dikelilingi oleh taman bambu.

02.jpg

Bale Tonggoh

Aula yang terletak pada bagian teratas situs Selasar Sunaryo Art Space ini adalah bangunan semi-permanen yang dapat digunakan sebagai ruang proyek dan ruang pameran sementara. Ruangan yang cukup luas ini dapat dibagi menjadi beberapa bagian dengan dinding sementara untuk memfasilitasi kebutuhan program.

DSCF6041.JPG

Kopi Selasar

Teras terbuka yang disediakan bagi para pengunjung untuk menikmati kopi dan panganan sambil memandang pemandangan bukit Dago yang asri. Dengan kursi dan meja kayu yang tertata di bawah rindangnya dua pohon ketapang, area ini juga dilengkapi dengan Wi-Fi dan menyediakan berbagai macam menu yang terdiri dari Western, Chinese dan menu masakan Indonesia. Area ini juga biasa dipesan untuk penyelenggaraan acara-acara pribadi atau kegiatan khusus lainnya.

IMG_2066.JPG

Cinderamata Selasar

Toko cinderamata ini menyediakan reproduksi karya seni, kartu, poster pameran dan kerajinan atau produk desain eksklusif yang telah dikurasi untuk pengunjung. Rangkaian khusus buku-buku yang tersedia dan dapat dibeli berupa buku seni rupa, kesenian Indonesia, desain, arsitektur, sastra kontemporer, fotografi dan katalog pameran.

IMG_2070.JPG

Pustaka Selasar

Fasilitas publik yang merupakan sub divisi Departemen Dokumentasi Selasar Sunaryo Art Space adalah pusat data, penelitian dan dokumentasi untuk seni Rupa di Indonesia dengan 1.500 materi seperti buku, katalog, majalah, transkrip,  jurnal, kliping, poster, foto, dan film.

1. rumah bambu.jpg

Rumah Bambu

Rumah yang terbangun dari bambu ini adalah bangunan orisinil sebelum pembangunan Selasar Sunaryo Art Space, dan setelah direnovasi menjadi fasilitas akomodasi untuk seniman residensi dan seniman lain yang terlibat dalam program SSAS.