Posts

Pameran ini menjadi perpanjangan upaya #KilasBalik, menampilkan karya-karya koleksi SSAS, yang diakuisisi melalui skema hibah oleh seniman-seniman yang pernah berpameran di sini selama sepuluh tahun terakhir. Pun, beberapa karya pinjaman yang pernah dipamerkan dalam program-program SSAS.

Read more

Mengakhiri tahun 2012, Bale Tonggoh-Selasar Sunaryo Art Space (SSAS) menyelenggarakan sebuah pameran yang menarik dengan menampilkan karya-karya Aminudin T.H. Siregar dan R.E. Hartanto. Kedua nama ini penting dalam medan seni rupa Bandung dalam terkhusus pada kegiatan aktivisme seni yang mereka lakukan di akhir tahun 1990-an hingga awal 2000-an.

Read more

Events

Pameran Lawangkaa

Sebagai seniman yang mewarisi pendekatan Mazhab Bandung, Sunaryo piawai dalam mengolah dan menjelajahi bahasa bentuk. Alhasil, karya-karyanya mampu menghadirkan pengalamanpengalaman liris bagi para pelihatnya. Kepekaan ini juga mampu membuatnya mendaya-gunakan beragam bahan dengan sejumlah teknik artistik. Melaluinya, potensi-potensi bentuk bahan-bahan tersebut hadir secara maksimal, serta lantang “berbicara” melalui asosiasi-asosiasi simboliknya.

Pameran ini menghadirkan sepilihan karya Sunaryo dari dua pameran yang pernah ia lakukan di SSAS. Pertama adalah seleksi karya dari pameran Lawangkala, sebuah pameran tunggalnya dalam rangka memperingati 20 tahun usia SSAS tahun lalu. Sepilihan karya ini menghadirkan beberapa lukisan, sebuah karya instalasi dan sebuah maket instalasi khas tapak monumental berupa lorong bambu yang merespon Ruang A. Pameran ini mencatat pencapaian baru dari Sunaryo dalam kebiasaannya mengolah bahan-bahan alami (batu, kayu, bambu, kain, kertas daluang dan lain-lain) serta mengapropriasi teknik- teknik penciptaan benda vernakular (menjahit, menganyam, dan lainlain).

Selain mengungkapkan pencerapan-pencerapan Sunaryo atas fenomena-fenomena alam, karyakarya ini juga menggarisbawahi kembali gagasan besar kekaryaannya selama ini yakni perihal waktu. Bagi Sunaryo, gagasan “waktu” selalu menarik saat terhubung dengan kehidupan manusia. Tentang waktu, manusia kerapkali terobsesi kepada keabadian yang seolah melawan sebuah kodrat, bahwa kehidupan di dunia bersifat sementara. Secara khusus, karya instalasi bambu Lawangkala menyoroti bagaimana waktu yang bersifat linear dan tidak bisa diulang. Karya ini berwujud kepada sebuah lorong atau labirin yang terinspirasi dari bentuk bubu, perangkap ikan tradisional. Melalui karya ini Sunaryo hendak berbicara bahwa manusia adalah selayaknya ikan-ikan yang terjebak dalam sebuah “perangkap” kehidupan sementara sebagai sebuah persinggahan menuju “kehidupan” selanjutnya.

Kedua, adalah karya-karya dari pameran tunggal keduanya Sunaryo di ruang ini pada 2000, yaitu Batu Melangkah Waktu. Senada dengan pameran tunggal yang meresmikan SSAS pada 1998, Titik Nadir. Pada Batu Melangkah Waktu, Sunaryo memberikan tanggapannya terhadap situasi sosial politik yang dinamis pasca reformasi. Melalui material batu-batu kali, Sunaryo memberikan responrespon artistik yang “sederhana”, misalnya memecah sebuah batu dan mengikat pecahanpecahannya kembali ke bentuk semula sebagai tanggapan atas disintegrasi bangsa. Selain itu ia juga secara lebih kompleks menjuktaposisikan batu-batu itu dengan material-material lain seperti
logam dan kayu untuk menampilkan gagasan-gagasannya tentang perubahan lingkungan, sinergi antara tradisi dan modernitas dan lain-lain.

Kurator: Chabib Duta Hapsoro