|

|
Tak Berakar Tak Berpucuk | No Roots No
Shoots
Enin Supriyanto,
Agung Hujatnikajennong (cur)
2011
| Paperback (Nadi Gallery) |77 pages
Perupa Handiwirman
Saputra memotret pemandangan Kali Kontheng, di daerah Gunung Sempu, Yogyakarta
tahun lalu dan menjadikannya sebagai titik berangkat dari tema yang diangkatnya
dalam pameran tunggal kesembilannya tahun ini di Galeri Nasional. Ia kembali
memancing penonton dengan menampilkan delapan karya besar, yang semuanya tanpa
judul, hanya diberi nomor dari satu hingga delapan. Semua karya itu merupakan
pembesaran beberapa kali lipat dari benda temuannya, yang merupakan barang sisa
atau benda tanpa nama yang teronggok di suatu tempat.
|
|

|
In the memory of Alit Sembodo
(1973-2003) Political Circus : an Ancient World
Hendro
Wiyanto (cur)
2011
| Hardcover (Umahseni) |ISBN 978-602-96043-2-0 |203 pages
Permainan
garis ekspresif dalam setiap karakter yang diciptakan Alit juga memiliki
simbol-simbol figuratif yang khas. Kebanyakan karya Alit memang berisi
adegan-adegan di mana karakter manusia yang digambar seperti sebentuk monster dengan
lipatan otot yang timbul. Tak hanya satu karakter, Alit menggambar
“manusia-manusia” itu dalam jumlah yang banyak. Berkerumun, berkelahi, main
tebas, gigit dan saling membunuh sesuai dengan judul karya yang hendak ia
sampaikan.
|
|

|
The Final Judgement
Rifky
Effendy (cur)
2010
| Paperback (Umahseni) |ISBN 978-602-96043-1-3 |176 pages
Tradisi
klasik The Annunciation itu digubah kembali oleh Ronald Manullang sebagai panel
pertama dari empat karyanya, The Final Judgment (200 x 180 sentimeter; cat
minyak di atas kanvas, 2009). Seri lukisan monokromatik ini, bersama karya
sejumlah perupa muda lain, muncul pada pameran The Holocaust di Umah Seni,
galeri baru yang diresmikan akhir 2009, di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.
|
|

|
Festival Grafis Berseni 2011 :
Reframing Printmaking
Dewan
Kurator Pameran Seni Grafis Berseni
2011 | Paperback (KGB - ITB) |103
pages
Dengan mengusung tajuk ‘’Reframing
Printmaking, festival ini mengajak para penggiat seni grafis dan juga
masyarakat untuk bercermin, melihat kenyataan, menengok apa yang telah
membentuk kita hari ini, mengintrospeksi diri dan kemudian menyusun kembali
seni ghrafis dengan harapan akan membawa kemajuan bagi perkembangan seni grafis
Indonesia, kini dan nanti.
|
|