Khasanah Seni Grafis Italia
Tuesday, 31 August 2010 11:35


Seni rupa Indonesia khususnya seni grafis berkesempatan mendapatkan sudut pandang baru dengan pameran “The Doublefold Dream of Art: 2RC Between the Artist and Artificer”. Pameran grafis ini diinisiasi oleh Kedutaan Besar Italia untuk Indonesia dan Italian Institute of Culture (Pusat Kebudayaan Italia), Kamar Dagang Italia dan Biasa Artspace.  Pameran ini menampilkan koleksi besar dari seniman grafis Italia dan mancanegara yang terpisah di tiga tempat di Indonesia.

Selain dalam misi pertukaran budaya, pameran ini patut dicatat karena membagi pengalaman sejarah seni grafis di Italia. Pada akhirnya pameran ini mampu memperkaya khasanah dan menggairahkan seni grafis di Indonesia yang kurang berkembang dibandingkan seni lukis dan patung.  Karya-karya grafis yang ditampilkan adalah karya yang telah dikerjakan oleh Studio Seni Grafis 2RC selama 50 tahun. Karya-karya ini dikerjakan oleh para seniman penting yang berasal dari berbagai negara, yang secara teknis mendapat dukungan dari para staf ahli 2RC, dengan berbagai pendekatan teknik. 

2RC memiliki misi mendudukkan seni grafis berada di derajat yang sama seperti lukisan dan ukiran. Misi ini diejawantahkan dengan proses eksperimentasi yang cukup lama sehingga menemukan teknis etching press (cetak etsa) yang sempurna dan mumpuni untuk segala kebutuhan seniman.

Dengan penemuan teknik itu banyak seniman tertarik untuk mendalami seni grafis sebagai modus berkarya mereka seperti Lucio Fontana, Francis Bacon, dan Enzo Cucchi. Dengan medium grafis seniman-seniman ini mampu mewakili ekspresi artistik mereka yang kemudian mewarnai perkembangan aliran abstrak dan pergerakan avant grade di barat pada abad 20.

Di belahan dunia lain yakni di Indonesia, selama beberapa dekade perkembangan seni rupa di negara ini belum mencatat progresivitas seni grafis secara signifikan. Ada beberapa hal yang membuat seni grafis di Indonesia kurang berkembang. Pertama, iklim tropis di Indonesia. Iklim tropis membuat tingkat kelembaban di Indonesia tinggi sehingga tidak bersahabat dengan karya-karya grafis yang berbahan kertas.

Kedua, tingginya tingkat kesulitan media ini. Ketiga, dengan tingkat kesulitan tinggi itu ternyata belum dianggap banyak perupa di Indonesia mewakili ekspresi artistik dan emosi mereka. Ekspresi artistik dan emosi tertinggi dianggap masih terwakili oleh sapuan kuas (brush stroke) di atas kanvas. Terakhir, karya-karya grafis dengan teknik cetak ditakutkan banyak kolektor seni di Indonesia sebagai karya yang tidak eksklusif. Seni grafis di Indonesia pun hanya ditelateni oleh beberapa perupa seperti Tisna Sanjaya dan AT Sitompul.

Achille Bonito Oliva dan Gerakan Transavantgarde

Tajuk pameran ini, “The Doublefold Dream of Art: 2RC Between the Artist and Artificer” mengindikasikan sebuah pertanyaan bagi kapasitas kerja dua sosok yakni pertama, seniman sebagai pengonsep (artist) dan kedua, para tukang ahli pencipta peralatan pembuatan karya seni (artificer).  Karya-karya ini mengungkapkan suatu capaian kapasitas dari para artisan untuk meningkatkan peran penting mereka sebagai para tukang ahli sekaligus pihak eksekutor dari suatu proyek seni dengan nilai tambah yang lebih besar dibanding konsep penciptaan karya tersebut pada awalnya.

Dengan mengutip pernyataan kuratorial dari Bonito Oliva bahwa koleksi karya-karya grafis ini merupakan manifestasi dari suatu perjalanan lewat perkembangan seni rupa kontemporer yang dikerjakan sejak tahun 1960-an hingga kini. Pameran ini merepresentasikan sebuah panorama yang lengkap, dengan kedalaman pencapaian suatu kualitas serta dengan pendalaman peran dari para seniman dan tukang ahli yang bekerja sama dalam suatu tradisi kreatif seni yang bernafaskan Italia.

Achille Bonito Oliva sendiri adalah pencetus Gerakan Seni Transavantgarde di Italia dan mempengaruhi paradigma seni di Eropa Barat pada akhir tahun 1970an dan 1980an. Terminologi Transavantgarde oleh Bonito Oliva diartikan sebagai dibalik (beyond) avantgarde. Gerakan ini mendudukkan nilai estetika yang dikembalikan kepada praktik tradisional seni dengan karya-karya lukis dan patung. Transavantgarde juga menolak konsep seni konseptual dan memperkenalkan lagi aspek emosi khususnya emosi kegembiraan. Gerakan Transavantgarde ini dilakukan oleh beberapa seniman seperti Sandro Chia, Fransesco Clemente dan Enzo Cucchi.

Karya-karya grafis seniman Transavantgarde ini dihadirkan di Selasar Sunaryo Art Space dalam sub-tajuk Trans-Avantgarde. Dalam pemeran ini dihadirkan karya-karya grafis dari Francesco Clemente, Enzo Cucchi dan Julian Schnabel yang berjumlah 25 karya. Pameran ini dibuka pada Sabtu, 29 Mei 2010. Setelah itu, Achille Bonito Oliva bakal memberi kuliah umum tentang Gerakan Transavantgarde di tempat yang sama pada 5 Juni 2010 bertajuk Transavanguardia. Helatan ini menjadi penting bagi seni rupa Indonesia karena adanya pendalaman mengenai Gerakan Transavantgarde berdasarkan presentasi langsung dari pencetusnya dan membandingkan dengan gerakan-gerakan seni yang pernah terjadi di Indonesia. Dan utamanya, helatan-helatan ini dapat memperkaya khasanah seni grafis di Indonesia.  

Dua pameran lain dihelat di Galeri Nasional Indonesia dan Sangkring Art Space. Galeri Nasional memamerkan 70 buah karya-karya grafis seniman Italia dan seniman bersejarah dari berbagai bangsa dengan sub-tajuk “Historical Italian & International Artists” pada 4-24 Juni 2010. Sedangkan Sangkring Art Space berkesempatan memamerkan 50 buah karya-karya grafis dari seniman Amerika dan Inggris dengan sub-tajuk “American & British Artists” pada 11-20 Juni 2010. Jumlah keseluruhan karya adalah 145 karya grafis dengan beragam medium seperti etching, aquatints, litografi, embossing dan 8 piringan tembaga. Karya-karya koleksi 2RC yang didirikan pada tahun 1959 ini mempresentasikan kepiawaian pelaku seni kontemporer dan keunggulan teknik percetakan dan engraving dari Italia yang melatari progresivitas-progresivitas kesenirupaan di Barat.

Chabib Duta Hapsoro, penulis seni rupa

Tulisan ini dimuat di rubrik Khazanah Harian Pikiran Rakyat Minggu, 30 Mei 2010