Mempersoalkan Ekspresi Ketaksadaran
Tuesday, 31 August 2010 11:25


Oleh Chabib Duta Hapsoro


Sejarah mencatat bahwa ekspresi intuitif manusia acapkali bersinggungan dengan aspek transeden yang mengondisikan manusia dalam pengalaman “kosong” dan kontemplatif. Khususnya teruntuk seniman, pengalaman ini sedikit banyak mempengaruhi proses berkarya mereka. Bahkan ada cukup banyak seniman yang mengeksploitasi ketidaksadaran sebagai modus berkarya. Selasar Sunaryo Art Space mengawali agenda tahun 2010 dengan pameran yang bertajuk Post-Psychedelia yang berlangsung pada 3-24 April 2010. Pameran ini juga bermaksud mengeksplorasi dan meredifinisi terminologi ‘psikedelik’/’psikedelia’.


Psikedelik adalah salah satu kecenderungan pergerakan kebudayaan yang pernah terjadi pada medio 1960-an. Terminologi psikidelik mulai dikenal setelah ilmuwan psikologi Harvard University, Timothy Leary berhipotesis bahwa momen ketidaksadaran yang dipicu oleh konsumsi zat psikoaktif mampu menghasilkan kesadaran yang lebih “tinggi” dan menghasilkan ekspresi-ekspresi yang khas. Kepada seniman, pengalaman transenden via LSD, obat bius dapat memicu proses artistik yang relatif lebih bebas dan jujur.


Leary kemudian menjadi penganjur gaya hidup psikedelik kepada para ilmuwan dan artis. Psikedelik yang kontroversial akhirnya menjadi landasan pergerakan kebudayaan perlawanan di Amerika: hippie. Saat itu hippie menjadi sorotan karena strategi kebudayaannya yang menentang Perang Vietnam. Psikedelik pun menjadi besar sedikit banyak karena peran The Beatles. Masa keemasan The Beatles patut dicatat saat masing-masing personel mengakrabi LSD sebagai stimulus proses kreatif mereka. Album magnum opus Sgt Pepper Lonely Hearts Club Band menjadi semacam pengesahan bahwa gaya hidup psikedelik adalah layak dijalani oleh seniman.


Ihwal ketaksadaran via zat psikoaktif ini rupanya menarik perhatian Agung Hujatnikajennong yang kemudian menginisiasinya menjadi sebuah pameran. Dalam pameran ini Agung hendak meluruskan jika ekspresi psikedelik tak melulu harus berkutat pada penggunaan zat psikoaktif. Singkatnya untuk menjadi psikedelik tak harus memakai zat psikoaktif. Menurut Agung makna psikidelik justru telah dipersempit oleh budaya pop dengan hanya menaruh perhatian lebih besar penggunaan zat psikoaktif. Maka dari itu gaya psikedelik banyak dipahami sebagai ekspresi yang semata menyimpang. Padahal lebih dari itu psikedelik mengandung banyak muatan filosofis. Selain bersemangat eksperimentatif. Para psikedelia sesungguhnya memuja perdamaian, kontemplatif dan menjelajahi religiusitas ketimuran.


Tawaran lain


Selain itu, Agung juga hendak memetakan bagaimana gaya hidup psikedelik dijalani oleh perupa di Indonesia serta kecenderungan apa saja yang bisa direkam dari karya-karya mereka. Satu hal bisa menjadi hambatan atau kemudahan. Hambatan timbul karena pergerakan psikidelik belum pernah menyentuh Indonesia. Ekspresi psikedelik di Indonesia hanya menjadi perluasan komodifikasi yang dikonsumsi komunitas kreatif seperti typeface dan kecenderungan karya rupa. Kemudahannya adalah Indonesia yang terletak di Timur tentu saja kaya akan ekspresi ketidaksadaran yang berhulu pada religiusitas. Modernisme memang memberi porsi berlebih kepada Barat untuk dapat memetakan segala kecenderungan di dunia. Indonesia yang kaya akan ekspresi religiusitas dan shamanisme tentu saja memiliki “gaya psikedelik-nya” sendiri.


Pemilihan perupa-perupa yang berpameran pun dilakukan atas pertimbangan kedekatan mereka terhadap pengalaman ketaksadaran. Patut diperhatikan bahwa inisiasi pameran ini juga tak bisa melupakan pameran BOAT yang menghadirkan S Teddy D, Ugo Untoro dan Yani Halim yang dikuratori Hendro Wiyanto pada tahun 2001 di Nadi Gallery. BOAT yang selain menawarkan aspek kedekatan emosional di antara ketiga perupa tersebut juga menyajikan kebiasaan mereka dalam menjelajahi alam ketidaksadaran dengan nge-boat (mengkonsumsi minuman beralkohol dan obat anti-depresan).


Pada awalnya Agung juga mengajak ketiga perupa tersebut untuk berpartisipasi dalam pameran Post-Psychedelia. Belakangan, Ugo Untoro karena suatu hal urung berpartisipasi. Karya Teddy dan Yani Halim bersama Arisendy Trisdiarto, Irwan Bagja Dermawan dan Syagini Ratna Wulan menawarkan eksperimentasi dalam menjelajahi alam tak sadar. Karya-karya Arisendy patut diberi perhatian. Ia “membekukan” tiap kedinamisan wajahnya saat mabuk dalam serangkaian karya fotografi dengan judul High in Motion. Karya Arisendy menjadi signifikan karena justru menawarkan banalitas dalam merespon teks kuratorial yang disodorkan. Ia hendak meminta justifikasi dari apresian apakah wajah-wajah tak sadarnya juga merupakan representasi dari kecenderungan psikedelik.


Selain itu tertangkap kecenderungan lain yang jauh-jauh hari telah disadari Agung. Kecenderungan itu ternyata terdapat medium lain yang digunakan banyak perupa di Indonesia yakni spiritualisme transendental dan shamanisme. Sebenarnya ada cukup banyak nama yang teridentifikasi dalam modus ini seperti almarhum Hendrawan Riyanto, Ivan Sagita dan Nasirun. Dalam pameran ini Agung justru menghadirkan Aas Rukasa seorang instruktur pernafasan dan meditasi kosmik. Kehadiran Aas merupakan tawaran alternatif dari Agung dengan keberadaan psikedelik yang khas Indonesia yakni pencapaian pengalaman transendental dengan medium spiritualisme. Goresan abstrak cat minyak Aas yang berjudul Dialogue between Two Worlds mencoba merespon gagasan kuratorial Agung.


Sementara perupa-perupa lainnya seperti Arin Dwihartanto, Duto Hardono dan Laurs Oscar Osman mencoba bertolak dari kebudayaan psikedelik populer. Sekali lagi ihwal ekspresi ketidaksadaran, pameran ini juga meyakini salah satu teori Jaqcues Lacan yang menganggap bahwa segala bentuk ekspresi ketidaksadaran adalah semata kodifikasi bahasa. Jadi seorang seniman dalam hal ini perupa dimungkinkan tidak keluar dari kecenderungan karya rupa yang pernah ia buat. Perupa hanya tinggal memilih apa saja yang ada di hadapannya bukan mengadakan ketiadaan. Aspek pengalaman amat menentukan di sini.


Jim Supangkat, kurator seni rupa dalam diskusi pameran ini menanggapi ihwal ketaksadaran dari perspektif yang menarik. Ia menggarisbawahi pernyataan kuratorial Agung tentang bagaimana dewasa ini ekspresi seni rupa kontemporer telah dilumrahkan oleh jargon ‘ekspresi diri’. Seharusnya jargon itu ditelaah lebih jauh dan dipetakan jika kita ingin menegaskan platform artistik seni rupa Indonesia. Jim juga menegaskan, perupa dengan kejelian intuitif dan memiliki craftsmanship yang baik akan selalu menelurkan karya yang baik meskipun dalam keadaan tak sadar. Ia berpendapat pameran ini bisa memancing diskusi lebih jauh mengenai aspek-aspek batiniah dalam dunia kreatif para perupa Indonesia sebagai wacana yang bisa menawarkan diskusi baru tentang seni rupa kontemporer Indonesia dalam kancah internasional.


*Tulisan ini dipublikasikan di Rubrik Khazanah, Harian Pikiran Rakyat Edisi Minggu 2 Mei 2010