|
Seni rupa Indonesia khususnya seni grafis
berkesempatan mendapatkan sudut pandang baru dengan pameran “The Doublefold
Dream of Art: 2RC Between the Artist and Artificer”. Pameran grafis ini
diinisiasi oleh Kedutaan Besar Italia untuk Indonesia dan Italian Institute of
Culture (Pusat Kebudayaan Italia), Kamar Dagang Italia dan Biasa Artspace. Pameran ini menampilkan koleksi besar dari seniman grafis Italia dan mancanegara yang
terpisah di tiga tempat di Indonesia.
Selain dalam
misi pertukaran budaya, pameran ini patut dicatat karena membagi pengalaman
sejarah seni grafis di Italia. Pada akhirnya pameran ini mampu memperkaya
khasanah dan menggairahkan seni grafis di Indonesia yang kurang berkembang
dibandingkan seni lukis dan patung. Karya-karya grafis yang ditampilkan adalah karya
yang telah dikerjakan oleh Studio Seni Grafis 2RC selama 50 tahun. Karya-karya
ini dikerjakan oleh para seniman penting yang berasal dari berbagai negara,
yang secara teknis mendapat dukungan dari para staf ahli 2RC, dengan berbagai
pendekatan teknik.
2RC memiliki
misi mendudukkan seni grafis berada di derajat yang sama seperti lukisan dan
ukiran. Misi ini diejawantahkan dengan proses eksperimentasi yang cukup lama
sehingga menemukan teknis etching press
(cetak etsa) yang sempurna dan mumpuni untuk segala kebutuhan seniman.
Dengan penemuan
teknik itu banyak seniman tertarik untuk mendalami seni grafis sebagai modus
berkarya mereka seperti Lucio Fontana, Francis Bacon, dan Enzo Cucchi. Dengan
medium grafis seniman-seniman ini mampu mewakili ekspresi artistik mereka yang
kemudian mewarnai perkembangan aliran abstrak dan pergerakan avant grade di barat pada abad 20.
Di belahan dunia
lain yakni di Indonesia, selama beberapa dekade perkembangan seni rupa di
negara ini belum mencatat progresivitas seni grafis secara signifikan. Ada
beberapa hal yang membuat seni grafis di Indonesia kurang berkembang. Pertama,
iklim tropis di Indonesia. Iklim tropis membuat tingkat kelembaban di Indonesia
tinggi sehingga tidak bersahabat dengan karya-karya grafis yang berbahan
kertas.
Kedua, tingginya
tingkat kesulitan media ini. Ketiga, dengan tingkat kesulitan tinggi itu
ternyata belum dianggap banyak perupa di Indonesia mewakili ekspresi artistik dan
emosi mereka. Ekspresi artistik dan emosi tertinggi dianggap masih terwakili
oleh sapuan kuas (brush stroke) di
atas kanvas. Terakhir, karya-karya grafis dengan teknik cetak ditakutkan banyak
kolektor seni di Indonesia sebagai karya yang tidak eksklusif. Seni grafis di
Indonesia pun hanya ditelateni oleh beberapa perupa seperti Tisna Sanjaya dan
|