Articles on Art
Videosonic #2 - The Spectacle
Tuesday, 13 December 2011 16:24

Our modern culture is a society that obsessed with looking (spectacle) and

what people think of each other. Modern technology facilitates and supports

tools to enable us to capture both sides of looking; watcher and being watched.

Videosonic is a Video and Sound Triennale included

Screening, Video Talk, Seminare and Workshop

Read more...
 
Selasar Sunaryo Art Space
Sunday, 31 October 2010 16:14

fSelasar Sunaryo Art Space (SSAS) is the realization of artist Sunaryo's longstanding dream to contribute to and support the development of Fine Arts in Indonesia. The term "selasar", which means "verandah", reflects the design concept, an open space that welcomes all who wish to experience art in its unique setting on the slopes of Dago Hills, north Bandung, not far from the city center. Constructed over four years (1993-1997) by Sunaryo and BaskoroTedjo, Selasar Sunaryo Art Space has been open to the public since September 1998. Today, SSAS has become a key player in the arts and cultural landscape of the country.

Interview with Agung Hujatnikajennong, curator of Selasar Sunaryo Art Space:

Haupt & Binder: The 1990s were a difficult decade in Indonesia. Could you describe the context around the origin of the space?

Agung Hujatnikajennong: I will start with my personal experience. Back in 1997, I heard about the plans to establish this space when I was still a student, and the artist Sunaryo was senior lecturer at the University. Then the crisis happened, the 1997 Asian crisis that hit the country's economy hard, and the launching of the space was postponed until 1998, and inaugurated on 5 of September 1998. The opening was quite special ... You may know that after the economic crisis, the political shift happened in Indonesia, when the Suharto regime was overthrown by the students. Right before the opening, the situation in the country was terrible, because of the riots, the student protests, the killings. Every day the international television broadcast about our country showing that it was really at the lowest point. This inspired Sunaryo to give the title of the opening "Titik Nadir" (The Lowest Point), deciding to wrap all his works in black cloth, and some of the building as well.

Source
Read more...
 
Khasanah Seni Grafis Italia
Tuesday, 31 August 2010 11:35


Seni rupa Indonesia khususnya seni grafis berkesempatan mendapatkan sudut pandang baru dengan pameran “The Doublefold Dream of Art: 2RC Between the Artist and Artificer”. Pameran grafis ini diinisiasi oleh Kedutaan Besar Italia untuk Indonesia dan Italian Institute of Culture (Pusat Kebudayaan Italia), Kamar Dagang Italia dan Biasa Artspace.  Pameran ini menampilkan koleksi besar dari seniman grafis Italia dan mancanegara yang terpisah di tiga tempat di Indonesia.

Selain dalam misi pertukaran budaya, pameran ini patut dicatat karena membagi pengalaman sejarah seni grafis di Italia. Pada akhirnya pameran ini mampu memperkaya khasanah dan menggairahkan seni grafis di Indonesia yang kurang berkembang dibandingkan seni lukis dan patung.  Karya-karya grafis yang ditampilkan adalah karya yang telah dikerjakan oleh Studio Seni Grafis 2RC selama 50 tahun. Karya-karya ini dikerjakan oleh para seniman penting yang berasal dari berbagai negara, yang secara teknis mendapat dukungan dari para staf ahli 2RC, dengan berbagai pendekatan teknik. 

2RC memiliki misi mendudukkan seni grafis berada di derajat yang sama seperti lukisan dan ukiran. Misi ini diejawantahkan dengan proses eksperimentasi yang cukup lama sehingga menemukan teknis etching press (cetak etsa) yang sempurna dan mumpuni untuk segala kebutuhan seniman.

Dengan penemuan teknik itu banyak seniman tertarik untuk mendalami seni grafis sebagai modus berkarya mereka seperti Lucio Fontana, Francis Bacon, dan Enzo Cucchi. Dengan medium grafis seniman-seniman ini mampu mewakili ekspresi artistik mereka yang kemudian mewarnai perkembangan aliran abstrak dan pergerakan avant grade di barat pada abad 20.

Di belahan dunia lain yakni di Indonesia, selama beberapa dekade perkembangan seni rupa di negara ini belum mencatat progresivitas seni grafis secara signifikan. Ada beberapa hal yang membuat seni grafis di Indonesia kurang berkembang. Pertama, iklim tropis di Indonesia. Iklim tropis membuat tingkat kelembaban di Indonesia tinggi sehingga tidak bersahabat dengan karya-karya grafis yang berbahan kertas.

Kedua, tingginya tingkat kesulitan media ini. Ketiga, dengan tingkat kesulitan tinggi itu ternyata belum dianggap banyak perupa di Indonesia mewakili ekspresi artistik dan emosi mereka. Ekspresi artistik dan emosi tertinggi dianggap masih terwakili oleh sapuan kuas (brush stroke) di atas kanvas. Terakhir, karya-karya grafis dengan teknik cetak ditakutkan banyak kolektor seni di Indonesia sebagai karya yang tidak eksklusif. Seni grafis di Indonesia pun hanya ditelateni oleh beberapa perupa seperti Tisna Sanjaya dan

Read more...
 
Mempersoalkan Ekspresi Ketaksadaran
Tuesday, 31 August 2010 11:25


Oleh Chabib Duta Hapsoro


Sejarah mencatat bahwa ekspresi intuitif manusia acapkali bersinggungan dengan aspek transeden yang mengondisikan manusia dalam pengalaman “kosong” dan kontemplatif. Khususnya teruntuk seniman, pengalaman ini sedikit banyak mempengaruhi proses berkarya mereka. Bahkan ada cukup banyak seniman yang mengeksploitasi ketidaksadaran sebagai modus berkarya. Selasar Sunaryo Art Space mengawali agenda tahun 2010 dengan pameran yang bertajuk Post-Psychedelia yang berlangsung pada 3-24 April 2010. Pameran ini juga bermaksud mengeksplorasi dan meredifinisi terminologi ‘psikedelik’/’psikedelia’.


Psikedelik adalah salah satu kecenderungan pergerakan kebudayaan yang pernah terjadi pada medio 1960-an. Terminologi psikidelik mulai dikenal setelah ilmuwan psikologi Harvard University, Timothy Leary berhipotesis bahwa momen ketidaksadaran yang dipicu oleh konsumsi zat psikoaktif mampu menghasilkan kesadaran yang lebih “tinggi” dan menghasilkan ekspresi-ekspresi yang khas. Kepada seniman, pengalaman transenden via LSD, obat bius dapat memicu proses artistik yang relatif lebih bebas dan jujur.

Read more...
 
Bandung artists attract market enthusiasm
Wednesday, 15 October 2008 11:05
Aminudin TH Siregar ,  Contributor ,  Bandung   |  Sun, 06/08/2008 10:06 AM  |  Arts & Design

In the past three years, there has been more activity in the Bandung art scene. Young artists have emerged and new names adorn the established configuration.They are the generation born in the 1980s: Some graduated from an art school last year or two years ago, others are still students. Not only do they use various kinds of media, content wise, but they also take on new issues. Unlike five or six years ago when Bandung's art scene was too laid back, today it is vibrant. The Bandung art scene for some time had a lost generation, if we measure this by the quantity of art school graduates. Every year, for one decade (1993-2003), most art graduates preferred not to build a career as an artist. And this was enough to create headaches for art school staff, who felt they had failed to produce real artists.

Read more...
 
<< Start < Prev 1 2 Next > End >>

Page 1 of 2