re: emergence

Judul re: emergence dalam pameran ini mengandung makna ganda. Yang pertama dan harfiah merujuk kepada ‘kemunculan kembali’ seniman-seniman yang pernah mengikuti pameran dua tahunan Bandung New Emergence (BNE) di Selasar Sunaryo Art Space (SSAS). Sejak penyelenggaraannya yang pertama pada 2006, BNE telah secara konsisten menampilkan karya-karya seniman muda yang merepresentasikan perkembangan mutakhir seni rupa di Bandung. Yang kedua, re: emergence bukan hanya sebuah ‘reuni’, tapi juga bingkai kerja kuratorial yang khusus. Karya-karya dalam pameran ini dikerjakan dalam hubungan dengan gagasan tentang ‘memori artistik’, yakni sebagai kemampuan manusia yang dengannya seseorang dapat menyimpan dan mengingat kembali kapasitas artistik tertentu. re: emergence menempatkan tindakan mengingat sebagai impuls untuk membangun ‘hubungan-hubungan artistik’ di antara karya-karya dalam pameran dengan karya, peristiwa seni rupa dan sosok-sosok seniman lainnya.

Pertanyaan yang mengawali pameran ini antara lain: Sejauh mana seniman-seniman muda menyadari proses kreasi dan posisi kekaryaan mereka, terutama di tengah pola persebaran pengetahuan yang rizomatik, serba cepat dan acak hari-hari ini? Bukan kebetulan, secara demografis, hampir seluruh seniman yang berpameran adalah mereka yang kini lazim disebut sebagai ‘generasi milenial’ yang akrab dengan teknologi media. Generasi ini mulai berkarya dan menapaki karir sebagai seniman, persis ketika internet menjadi ‘perpustakaan global’, yang tidak hanya mendorong ekses informasi yang luar biasa di satu sisi, tapi juga berdampak pada kelangkaan kesadaran dan pengalaman sejarah di sisi yang lain. Untuk generasi milenial, gawai telah menjadi semacam ‘memori prostetik’, yang melaluinya berbagai informasi dapat disimpan dan dipanggil dan dimunculkan kembali sewaktu-waktu dalam bentuk citra pada layar-layar berpendar. Proses kreasi artistik berangsur-angsur menjadi semakin terikat pada pola transmisi dan resepsi informasi yang, oleh karena kemelimpahruahan dan jangkauannya, cenderung menjadi atemporal dan aspasial: Ketika semua informasi dari berbagai ruang dan waktu hadir secara simultan, terjukstaposisi oleh logika algoritma google yang non-linier, kita kesulitan untuk mengartikulasikan karakter-karakter khas dari ruang dan waktu kita sendiri.

Perumusan arah pameran dimulai dengan sejumlah pertemuan dan diskusi rutin di antara seniman dan kurator. Para seniman diminta untuk mengingat-ingat perjumpaan-perjumpaan artistik yang bermakna sepanjang hidup mereka. Dalam diskusi, karya-karya, pameran-pameran maupun sosok-sosok seniman lain selalu dimunculkan sebagai pemantik. Meski dibatasi oleh ‘seni rupa Indonesia’ sebagai lingkungan terdekat mereka, lingkup pembicaraan cenderung tidak terbatas, sehingga secara acak diskusi berkisar di antara nama-nama seniman-seniman dari berbagai konteks tempat dan masa: Affandi, Agan Harahap, Agus Suwage, Amrizal Salayan, Andry Moch, Angki Purbandono, Ay Tjoe Christine, Diyanto, Gusbarlian Lubis, Haryadi Suadi, Hendrawan Riyanto, Jompet Kuswidananto, Mella Jaarsma, Mochtar Apin, Nashar, Onong Nugraha, Rommy A. R. Ramadhan, S. Sudjojono, Sunaryo, T. Sutanto, Tisna Sanjaya, dll. Beberapa seniman bahkan merujuk pada karya-karya teman-teman di lingkaran mereka sendiri. Muncul pula pembicaraan tentang pengalaman-pengalaman berada di dalam sebuah ruang pamer. Ingatan-ingatan para seniman itu berangsur-angsur berkembang menjadi studi-studi yang lebih rinci, maupun eksplorasi yang meluas ke dalam berbagai narasi, ide, teknik, metode dan pendekatan dalam berkarya.

re: emergence, pada akhirnya, menunjukkan bagaimana ingatan-ingatan artistik ditransformasikan, secara jelas (sebagai konten utama) maupun samar-samar (sebagai subteks) dalam karya-karya para seniman muda. Sejumlah karya dalam pameran ini adalah tafsir bebas atas karya atau pameran yang pernah ada; sebagian merupakan penghargaan atau penghormatan untuk sosok seniman lain; namun, ada pula karya-karya yang dikerjakan melalui kolaborasi langsung dengan seniman lain yang dianggap berpengaruh. Proses transformasi ingatan menjadi pengetahuan pada dasarnya adalah sesuatu yang alami dalam setiap kreasi artistik—bahwa dalam setiap kreasi artistik sesungguhnya selalu terkandung ‘kreasi-kreasi’ lainnya. Tapi melakukan transformasi itu secara sadar hari-hari ini adalah upaya berharga, sekurang-kurangnya untuk ‘menolak lupa’.

Pameran ini pada awalnya tidak berambisi untuk menampilkan suatu sejarah seni rupa. Namun dalam realisasinya karya-karya para seniman ternyata bergerak ulang-alik di antara ‘persinggungan’ maupun ‘manuver’ dari wacana sejarah. Sebagian karya dalam re: emergence memang berbicara tentang sosok-sosok maupun karya seniman yang telah ‘populer’ dalam wacana sejarah seni rupa Indonesia, tapi justru melalui cara-cara yang bebas, misalnya dengan menggali pengalaman-pengalaman testimonial, subjektif—yang boleh jadi ‘non-ilmiah’. Di pihak lain, sebagian seniman tidak serta-merta menjauhi metode sejarah yang konvensional—seperti studi arsip dan wawancara, misalnya. Tapi cara-cara itu dilakukan untuk membicarakan karya-karya, pameran ataupun sosok-sosok seniman yang absen atau telah terlupakan dalam sejarah.

Agung Hujatnikajennong

SCHEDULE

September 16th – October 22nd 2017

Curated by:
Agung Hujatnikajennong
Chabib Duta Hapsoro
Yacobus Ari Respati

Opening
Saturday, September 16th 2017
19.00 WIB | Amphitheater

Performances by:
Duto Hardono
Erik Pauhrizi dan Erika Ernawan
Erwin Windu Pranata
Fajar Abadi
Patricia Untario
Yusuf Ismail

Guest Appearance by:
Filastine & Nova feat. Bottlesmoker

Public Tour*
September 23rd & October 15th 2017
11.00 |Guided by Exhibition Curators
*free admission

Artist on Artist Talk Series
Saturday, September 23rd 2017
13.00 | Bale Handap
Zico Albaiquni on S. Sudjojono
Theo Frids Hutabarat on Mochtar Apin
Riar Rizaldi on “Lama Sabachthani Club” exhibition
Duto Hardono on “Gusbarlian+Ramla Istibar” exhibition
J.A. Pramuhendra on Tisna Sanjaya
Yogie Achmad Ginanjar on Diyanto
Banung Grahita on T. Sutanto

Friday, October 13th 2017
13.00 | Bale Handap
Bagus Pandega & Tromarama on Jompet
Radi Arwinda on Haryadi Suadi
Wiyoga Muhardanto on Gusbarlian Lubis
Patricia Untario and Fajar Abadi on Amrizal Salayan
Erik Pauhrizi & Erika Ernawan on Hendrawan Riyanto
M. Akbar & Erwin Windu Pranata on Andry Moch

Supported by:
2.decades
Omuniuum

Media Partner:
IndoArtNow
Sarasvati Art Magazine
Majalah Dewi

Peta Ruang Pameran

Peta Ruang A

Klik nomor hotspot untuk melihat info seniman

1

Duto Hardono

2

Banung Grahita

3

Erik Pauhrizi & Erika Ernawan

4

Sekarputri Sidhiawati

5

Bagus Pandega

6

Haikal Azizi

7

Syaiful Aulia Garibaldi

8

Maharani Mancanagara

Peta Bale Tonggoh

Klik nomor hotspot untuk melihat info seniman

1

Yusuf Ismail

2

Fajar Abadi

3

Bandu Darmawan

4

Muhammad Akbar

5

Eldwin Pradipta

6

Nurrachmat Widyasena

7

Patricia Untario

8

J.A. Pramuhendra

Peta Ruang B dan Sayap

Klik nomor hotspot untuk melihat info seniman

1

Theo Frids Hutabarat

2

R. Yuki Agriardi

3

Radi Arwinda

4

Riar Rizaldi

5

Muhammad Zico Albaiquni

6

Michael Binuko

7

Yogie Achmad Ginanjar

8

Cinanti Astria Johansjah

9

Tromarama

10

Erwin Windu Pranata

11

Wiyoga Muhardanto

12

Guntur Timur

13

Mufti Priyanka

14

Agugn

Supported by:

Media Partner:

© 2015 Selasar Sunaryo Art Space. Site by TiasaWeb.