Past Program
Event
- Title:
- 3 Menguak Asa
- When:
- 14.08.2009 - 31.08.2009
- Category:
- Programs 2009
Description

Group Exhibition by Ahmad Syahbandi, Masriel, Zirwen Hazri
August 14th - August 31st, 2009
Opening:
Friday, August 14th 2009 | 7.30 pm
Venue : Bale Tonggoh, Selasar Sunaryo Art Space
Officiated by Christiana Gouw
Discussion / Artists Talk:
Sunday, August 16th 2009 | 3.00 pm
Venue : Bale Tonggoh, Selasar Sunaryo Art Space
Speaker: Asmudjo J. Irianto and the artists (Ahmad Syahbandi, Masriel, Zirwen Hazri)
Gagasan Masriel menampilkan obyek-obyek terbuat dari kertas merupakan hal yang menarik. Secara cerdik dia memanfaatkan seni lukis untuk “melindungi” keremehtemehan obyek yang menjadi pokok dalam lukisannya. Sepatu kertas yang sesungguhnya tidak akan memberikan dampak estetik sekuat pada saat sepatu kertas tersebut dilukis. Penggambaran TV dan sepatu dari kertas seperti mengajak kita untuk berpikir lebih dalam mengenai makna kertas, TV dan sepatu. Sepatu, dan kertas adalah representasi yang telak mengenai “perjalanan” manusia. Kertas kerap kali ditengarai merefleksikan identitas peradaban atau kebudayaan. Sejarah dimulai dengan keberadaan aksara pada kebudayaan manusia. Ilmu pengetahuan dan informasi sampai saat ini tersebar melalui media kertas (buku dan media massa cetak). Namun posisi kertas saat ini disaingi oleh transmisi elektronik, khususnya yang berbasis digital.
Karya-karya Syahbandi bicara mengenai persoaan dominasi kapitalisme, tengok saja karya berjudul Playing With the World. Mudah difahami bahwa karya-karya tersebut bicara mengenai eksploitasi ekonomi ala kapitalisme liberal, yang mungkn memang seperti perjudian. Bukankah hal itu terbukti dengan krisis keuangan yang melanda Amerika dan menyebar ke seluruh dunia baru-baru ini? Sementara itu, figur-figur liliput bisa jadi merepresentasikan masyarakat itu sendiri, yang sesungguhnya menjadi target utama kapitalisme, namun tampaknya mereka gembira saja menerima nasibnya.Mereka senang menjadi bagian dari kapitalisme global. Bukankah kenyataannya sehari-hari kita mengamini dan menjunjung kapitalisme?
Bagi saya karya-karya Zirwen dalam pameran ini hampir-hampir seperti petuah tidak langsung, petuah yang dibungkus bahasa yang santun. Semacam pantun. Karya berujudul “Monopang Alam” tentu saja bicara mengenai kerusakan alam. Alam bagi orang Minangkabau merupakan hal yang amat penting, Tentu saja yang dimaksud alam adalah juga relasi manusia dengan alam, harus ada keserasian antara natur dan kultur. Agaknya arus modernisasi yang disokong kapitalisme menyebabkan terganggunya keseimbangan antara natur dan kultur. Itu sebabnya, ke depan beban manusia akan semakin tinggi, sebab karena ulahnya sendiri alam menjadi semakin tak bersahabat dengan manusia.(Asmudjo J. Irianto)
