Bandung New
Emergence (BNE) merupakan pameran reguler berskala dua tahunan di Selasar
Sunaryo Art Space (SSAS) yang bertujuan untuk memetakan perkembangan seni rupa
kontemporer di
Bandung
melalui karya-karya seniman muda (young
emerging artists). Sejak penyelenggaraannya yang pertama (2006) BNE telah
menjadi pameran yang berhasil memunculkan karya-karya dan sosok talenta muda
yang kini namanya semakin berkibar dalam pameran-pameran nasional maupun
internasional.
Para seniman yang masuk dalam
seleksi kuratorial BNE adalah mereka para seniman muda yang telah menapaki
karir sebagai seniman—berkarya, terlibat dalam proyek-proyek seni maupun workshop dan berpameran—minimum sejak dua sampai tiga tahun belakangan.Yang unik
dalam BNE adalah bahwa dalam setiap penyelenggaraanya kurator selalu menerapkan
metode dan seleksi yang berbeda-beda. BNE, dengan demikian, bukanlah sebuah
pameran seni rupa yang rutin semata dan bertujuan memunculkan seniman-seniman
baru. Lebih dari itu, BNE adalah peristiwa unik yang selalu ingin menghadirkan
kejutan dan wacana-wacana baru yang memperkaya khasanah penciptaan dan
pembacaan terhadap praktik seni rupa kontemporer di
Indonesia.
Pada
penyelenggaraan yang pertama (BNE, 2006), menawarkan bingkai kuratorial yang
berupaya membaca perkembangan praktik seni yang berbasis kelompok (artist initiative) terutama oleh karena
mulai bermunculannya kelompok-kelompok seniman semacam TROMARAMA, Abstra-x,
Restart, ASAP, dan Button Kultur di Bandung. Kemunculan kelompok-kelompok ini
dibaca sebagai sebuah gejala sosial yang spesifik dan berdampak pada
kecenderungan artistik yang berbeda dengan generasi seniman
Bandung sebelumnya.
Penyelenggaraan
yang kedua (BNE v.2, 2008) mencoba menawarkan definisi yang baru dari istilah
‘seniman’. Dilatarbelakangi oleh keinginan untuk menghubungkan praktik budaya
kreatif (creative culture) di
Bandung yang sejak lama
terkenal dengan fesyen dan musik anak mudanya yang khas, BNE v.2 memperluas
kualifikasi peserta pameran dengan melibatkan para desainer dan musisi. Dengan
demikian, peserta BNE v.2 memang bukan sekadar para ‘seniman’ atau ‘perupa’,
melainkan ‘kreator’, yang dianggap lebih mewakili ciri khas praktik budaya anak
muda di Bandung, di mana batas-batas seni dan budaya populer cenderung ‘tipis’,
karena pergaulan para pelakunya yang sangat berbaur. Tampil dalam pameran ini
seniman-seniman seperti: GHOST (Agra Satria dan Yasmina Yustiviani), J.
Ariadhitya Pramuhendra, Tommy Aditama Putra, CAPO project dll.
Kali ini, Bandung
New Emergence volume 3 (BNE v.3, 2010) dihadirkan dengan tujuan untuk menjawab
pertanyaan-pertanyaan tentang ‘keberlangsungan’ dan ‘pengaruh’, seperti
misalnya: Adakah pengaruh generasi seniman
Bandung terdahulu pada kekaryaan
seniman-seniman muda saat ini? Jika ada, seperti apa? Untuk menjawab pertanyaan
itu, pameran ini melibatkan beberapa seniman Bandung yang ‘lebih senior’—Nurdian
Ichsan, Prilla Tania dan RE Hartanto—yang
kemudian bertindak sebagai rekan diskusi bagi para seniman-seniman muda yang berpameran.
Pada
akhirnya karya-karya yang tampil pada BNE v.3 kali ini berbeda karena dihasilkan
melalui sebuah proses dialog dan diskusi yang intens antara seniman dan para
rekan dialognya: Sebuah simulasi tentang ‘keberlangsungan’ dan ‘pengaruh’ dalam
seni rupa
Bandung.
Dikuratori oleh Agung Hujatnikajennong,
BNE v.3 menampilkan karya-karya Bagus Pandega, Banung Grahita, Dita
Gambiro, Dilla Martina Ayulia, Endira FJ, Erwin Windu Pranata, Faisal Habibi,
Leyla Aprilia, Maradita Sutantio, Mariam Sofrina, R. Yuki Agriardi, Reggie Aquara,
Syaiful Aulia Garibaldi dan Wastuwidyawan
Paramaputra.