Current Program
Bongkar/Muat - Unload/Reload

Program Residensi transit #1

4 - 27 November 2011
Ruang B dan Ruang Sayap

 

“transit” adalah tajuk dari program residensi seniman yang diinisiasi oleh Selasar Sunaryo Art Space (SSAS) di tahun 2011. Dirancang sebagai kegiatan reguler 2 tahunan, "transit" diharapkan menjadi semacam persinggahan bagi seniman-seniman terpilih menuju proses kekaryaan yang lebih kaya dan eksploratif.

Mereka yang mengikuti "transit" adalah seniman-seniman muda Indonesia terpilih yang diundang melalui mekanisme rekomendasi dari para pengamat, kritikus dan kurator seni rupa. Dalam proses berkarya selama residensi, para seniman didampingi oleh tim rekanan yang terdiri dari seniman dan kurator. Secara intens tim rekanan ini melakukan dialog dan kunjungan ke studio, untuk membantu para seniman membuka kemungkinan-kemungkinan dan merumuskan gagasan baru.


Tim seleksi yang terdiri dari Sunaryo, Hendro Wiyanto, dan Agung Hujatnikajennong memilih Gatot Pujiarto (Malang), I Made Wiguna Valasara (Bali/Yogyakarta) dan Rudayat (Bandung) sebagai partisipan transit#1.

Selama tiga bulan para seniman tidak hanya diberikan fasilitas untuk berkarya dan mengembangkan ide mereka, tetapi juga diberi kesempatan untuk berdiskusi dengan seniman, kurator, kritikus, wartawan, mahasiswa dan publik di Bandung. Diharapkan dengan fasilitas kerja, suasana dan studio baru, para seniman dapat lebih terangsang untuk melahirkan gagasan-gagasan baru dan lebih fokus pada proses kekaryaan mereka. Interaksi dengan atmosfer kerja dan lingkungan/medan sosial seni yang baru juga diharapkan dapat mendukung eksplorasi kreatif seniman secara lebih maksimum. transit#1 dimulai sejak awal bulan April dan diakhiri pada bulan Juni 2011.

Ketiga seniman yang berpartisipasi dalam residensi transit#1 masing-masing memiliki karakteristik khusus dalam berkarya. Gatot Pujiarto adalah seniman yang mengeksplorasi persoalan intuisi manusia. Proses penciptaan intuitif Gatot bisa disandingkan dengan gaya abstrak ekspresionisme yang menekankan pada aspek spontanitas dan ketidaksadaran. Uniknya, alih-alih menggunakan medium cat, Gatot menciptakan karyanya dengan menggunakan kain perca. Kain perca ia gunakan selayaknya cat yang ditempelkan dan digabungkan dengan teknik jahit.

Belakangan, Gatot menyadari bahwa proses penciptaan intuitifnya ternyata masih terkekang oleh keharusan penciptaan figur. Hal itu ia sadari saat proses residensi. Atas saran salah satu rekanan residensi ia lantas mencoba membebaskan diri dari pola kekaryaan itu. Gatot mencoba untuk menunda keinginan membentuk figur, lalu secara perlahan-lahan membentuk komposisi yang lebih mengalir dan bebas pada kanvas-kanvasnya.


Dalam proses residensinya, Gatot merasa mendapatkan inspirasi baru melalui sosialisasi dengan lingkungan kerja baru. Ia juga mampu merumuskan suatu pernyataan gagasan dan kerja artistiknya secara lebih terstruktur. Menurutnya, Dengan teknik kolase yang dijahit Gatot bisa melihat dan merasakan jejak-jejak proses berkaryanya yang kemudian membangun imajinasinya. Aspek penting lain dalam karya-karya Gatot ada pada proses pencarian, penciptaan, fluktuasi emosi saat karya itu diciptakan.


I Made Wiguna Valasara memiliki pendekatan artistik yang unik. Tumbuh di lingkungan sentra kerajinan di Sukawati, Bali membentuk Valasara menjadi perupa yang gemar mengeksplorasi medium. Selain itu Valasara sejak lama gemar berkarya dengan berangkat dari eksplorasi elemen-elemen visual seperti garis, warna dan bentuk. Dalam kekaryaan sebelumnya, Valasara banyak melakukan eksplorasi garis yang memainkan ilusi dan impresi optik. Dalam proses residensinya di Bandung kali ini, Valasara menemukan gagasan baru dalam berkarya, yakni dengan memperlakukan kanvas sebagai objek.


Dalam karya-karya sebelumnya, Valasara banyak memunculkan figur-figur binatang sebagai relief lunak pada kanvas. Ia mengakui bahwa ia sempat merasa terjebak dan mandeg dengan figur-figur binatang itu. Semula, figur-figur itu ia hadirkan sebagai dalih untuk menghadirkan lukisan representasional, misalnya kerusakan ekosistem dan lain-lain. Padahal ia lebih senang berkonsentrasi pada aspek-aspek formal seni rupa. Residensi "transit" pada akhirnya meyakinkan Valasara untuk meninggalkan tema-tema representasional. Saat ini ia mencoba berkonsentrasi pada bentuk-bentuk relief lunak pada kanvas yang lebih terbuka pada pemaknaan ihwal medium seni lukis.

Rudayat dikenal sebagai pelukis yang menggabungkan dua gaya visual, yakni foto realisme dan grafiti. Dengan itu ia mencoba mempersoalkan praktik seni jalanan (street art) melalui idiom seni lukis. Dalam lukisan-lukisannya, gambaran figur-figur seringkali dihasilkan dengan teknik cat semprot dan stensil. Ia menghadirkan lukisan tembok dengan teknik yang super realistik sebagai latar belakang. Uniknya penggabungan dua gaya ini menghasilkan ambiguitas. Sosok-sosok grafiti Rudayat tampak melayang dan berjarak dengan citraan tembok di belakangnya. Menurutnya ia sedang menggrafiti lukisannya sendiri.


Selama masa residensi, Rudayat merasa diberikan ruang yang lebih fokus pada eksekusi gagasan. Kehadiran tiga orang rekan diskusi dalam "transit" juga telah menajamkan konsep berkaryanya. Ia mencoba memperluas gagasan untuk tidak hanya menggrafiti lukisan melainkan juga menghadirkan praktik street art di atas lukisannya sendiri. Dengan teknik video stop motion, ia berencana menyorotkan praktik idiom-idiom street art yang biasa kita lihat di jalanan di atas lukisannya.


Chabib Duta Hapsoro

 

Partisipan transit #1 , 2011:

 

Gatot Pudjiarto lahir di Malang, 6 Maret 1970. Menempuh pendidikan di IKIP Malang tahun 1991 jurusan Seni Rupa. Pameran tunggal: 2009: "Kisah Wajah", Bale Tonggoh Selasar Sunaryo Art Space, Bandung; 2008: "Mutation". Tembi Contemporary, Yogyakarta; 2000: "Pameran Tunggal I", Indoart, Malang. Pameran bersama terpilih: 2009: "Lintas Generasi", Perpustakaan Kota Malang, Malang; 2007: "100 Tahun Affandi", V-Art Gallery, A2006: "City Scape Biennale", I, Surabaya; 2005: "Discourse, Pra Bali Biennale", Bentara Budaya Yogyakarta, Yogyakarta; Orasis Art Gallery, Surabaya; Darga Art Gallery, Bali; Hamur Sava, Malang.

 

 

Made Wiguna Valasara lahir di Sukawati 1983, menempuh pendidikan Seni Patung dan Seni Lukis di ISI Yogyakarta. Pameran tunggal: 2010: "Animal Behaved", Bale Tonggoh Selasar Sunaryo Art Space, Bandung; 2008: "Marshalling Lines and Color", Galeri Canna, Jakarta. Pameran bersama terpilih: 2009: "Asyaaf" dan "Art Season", Seoul, Korea; "Jogja Jamming, Jogja Biennale X", Taman Budaya Yogyakarta, Yogyakarta; 2008: "100 Tahun Affandi", V-Art Gallery, Yogyakarta; "Survey", Edwin's Gallery, Jakarta; "Meniti Jalan Garis, Pameran Kelompok Sentak", Galeri Semarang, Semarang; 2007: "SENTAK, Keteraturan Adalah Kebebasan", Museum Affandi, Yogyakarta; "SENTAK!!" Mon Decor Galeri, Jakarta.

 

 

Rudayat lahir di Bandung, 10 Juli 1983, menempuh pendidikan di jurusan Seni Rupa UPI Bandung. Pameran tunggal: 2010: "de-illusion", Bale Tonggoh Selasar Sunaryo Art Space, Bandung. Pameran bersama terpilih: 2010: "Jogja Art Fair #2, Spacing Contemporary", Taman Budaya Yogyakarta, Yogyakarta; "Deep in Store", CG Artspace, Jakarta; "Exodus of Bandung", Aryaseni, Singapore; 2005: "Feat: Rumah Proses, CP Biennale", Museum BI, Jakarta.

 

Beberapa momen proses Residensi transit #1: