|
“heavenlyflavour”
Pameran Tunggal Tina Nuraziza
Kurator : Ardiyanto
Bale Tonggoh – Selasar Sunaryo Art Space
18 – 30 Mei 2008
Selasar Sunaryo Art Space bekerjasama dengan Rumah Proses menyelenggarakan program pameran tunggal Tina Nuraziza “heavenlyflavour” yang pembukaannya akan diselenggarakan pada:
Hari/tanggal : Minggu, 18 Mei 2008
Waktu : Pk.19.30 WIB
Tempat : Bale Tonggoh – Selasar Sunaryo Art Space
Produksi Imaji dari Fetisisme Mainan dan Panganan Anak
Anne Bromilow, merupakan seorang editor busana majalah Tatler. Ia mengutarakan bahwa saat ini terdapat tendensi penampilan para super model dunia seumpama wajah kekanak-kanakan atau wajah boneka. Tendensi ini mencerminkan gaya anak-anak dalam dunia busana dewasa. Sehingga era popularitas super model berwajah seksi telah tamat. Fashion atau dunia mode saat ini memutar arah ke belakang yang bertema riang, seperti : celana pendek, pakaian bermain serta variasi warna yang menyala. Lazaro Hernandez pun dari sebuah rumah mode lain mengutarakan pada majalahn Teen Vogue, bahwa pada super model berwajah boneka merupakan di antara sedikit para model yang ketika beraksi di cat walk, seolah datang dari dunia antah berantah atau dimensi lain (inspirastif dan imajinatif). Gemma Lousie Ward merupakan salah satu yang mewakili fenomena ini. Beberapa super model bertipe wajah serupa sama sekali berbeda dengan para model sebelumnya. Mereka ini seolah Alien : sangat halus dan tidak membumi, sosok wanita pirang yang eksotik, mahluk yang sangat langka. Pendek cerita model of the moment dalam dunia Fashion yang selalu mencari hal baru. Beberapa super model berwajah boneka diantaranya : Jessica Stam, Vlada Roslyakova, dan Heather Marks laku keras memeragakan sejumlah karya desainer busana kenamaan dunia serta sejumlah produk perkakas kecantikan yang tersohor. Perangkat busana yang jadi idaman banyak wanita di jagat ini. Wajah yang demikian itu menjadi konsumsi vital bagi industri-industri busana, kecantikan : tata rias dan tata wajah, industri hiburan. Bahkan beberapa diantaranya menjadi ‘media’ atau ikon stratejik guna mengkampanyekan kemanusiaan: perdamaian, kesehatan publik, pendidikan dan lingkungan hidup.
Sejumlah model jagat berwajah boneka yang eksotik, berkarakter, dan yang imajinatif ini merupakan ‘jiwa zaman’ dari konstelasi fashion urban dan kontemporer dunia. Makna kecantikan dan keseksian dalam industri kecantikan dunia senantiasa bergeser pada setiap periodenya. Suatu gagasan maupun tampilan wajah terus menerus dikonstruksikan sesuai konteks dan kebutuhan logika pasar. Kali ini dunia peri, alien dan dimensi futuristik lainnya menjadi pilihan. Hal ini menjadi pijakan inspirasi baru dalam kesertaan mereka sebagai ‘kapstok berjalan’. Pada sisi lain, figur dan wajah para super model tidak sedikit yang menjadi inspirasi industri mainan saat ini. Terutama industri boneka sejak era bomming “boneka barbie”. Demikian pula sebaliknya, ekpresi wajah boneka figurin manusia dapat menginspirasi pilihan dan putusan suatu trend super model untuk berkompetisi di panggung cat walk. Kompetisi pasar yang berusaha diungguli dengan kreatifitas melalui penekanan aspek positioning , branding dan deferenciation suatu pertunjukan dan produknya. Inilah era konsumsi yang menjadi roh kebudayaan kontemporer global.
Aktifitas budaya konsumen diwadahi oleh berbagai media massa, terutama televisi dan kini dilengkapi oleh fasilitas internet. pada dasarnya, Keduanya merupakan media komersial. Media elektronik ini memiliki jangkauan distribusi yang luas dan cepat. Disamping itu memiliki posisi penting dalam memproduksi serta mereproduksi budaya promosi. Utamanya pada perefleksian citra visual guna mengkreasikan berbagai branding beragam produk bernilai tambah. Disamping sejumlah tanda komoditas lainnya. Bahkan Wernick menyatakan bahwa koektensif secara virtual dengan dunia produksi simbolis ditandai oleh fenomena budaya yang berupaya mengkomunikasikan suatu pesan promosi. Sulit meyakini bahwa setiap produk konsumsi atau objek konsumer berdampak seragam di berbagai belahan dunia. Tentunya sejumlah objek konsumer tersebut akan dimaknai secara khas dalam berbagai macam makna. Upaya ini dicapai melalui proses glokalisasi. Konsumsi tidak lagi dimaknai hanya sebagai satu lalu lintas budaya material. Tetapi upaya ini merupakan panggung sosial yang memproduksi makna sosial yang kerap diperebutkan orang. Setiap orang yang terlibat menempuh peperangan dalam meraih satu posisi pada lokasi sosial tersebut. Budaya konsumerisme berkembang menjadi suatu lokasi dimana berbagai produk konsumer menjadi satu wahana pembentukan citra, gaya hidup, personalitas dan gaya. Budaya ini menjadi metode untuk mendiferensiasikan status sosial yang variatif melalui mekanisme yang tersistematiskan. Objek konsumer selanjutnya mampu merefleksikan makna kehidupan kontemporer itu sendiri.
Berbagai tahapan komodifikasi, bagi Paul Willis, dapat mendorong munculnya sebuah “budaya bersama” dalam praktik-praktik konsumsi oleh kalangan muda. Makna dan nilai dikonstruksi pada saat komoditas itu dikenakan, yang disebutkan pula sebagai grounded aesthetics. Budaya kontemporer bukan merupakan budaya tanpa makna atau hanya permukaan yang superfisial. Sejumlah orang muda yang berperan selaku produser budaya menciptakan makna secara aktif pada praktik budaya kontemporer ini. mereka merupakan pembaca citra yang cangggih dan intens. Terutama saat menjadi pemirsa televisi. Mereka belajar cara bermain saat menafsirkan kode-kode dunia pertelevisian. Pada sisi lain, dunia internet dan pertelevisian menghasilkan budaya yang cukup demokratis serta kreatif. Permainan kreatif di mana berbagai bentuk budaya dikonsumsi sekaligus pula diproduksi berdasarkan berbagai kemungkinan. Makna diubah, diproduksi serta diorganisir pada tahapan konsumsi oleh berbagai orang. Sehingga tidak sedikit orang menjadi produsen makna yang aktif.
Pada kasus ini, citra The Dream of Dolls diunduh dari internet dimana virtual image-nya mampu membangkitkan aktifitas scopofilia Tina Nuraziza (lulusan Seni Rupa UPI Bandung). Sementara itu, disiplin psikologi analitik diantaranya mengupas aktifitas pandangan mata yang memiliki kaitan dengan temuan teori Lacanian dan Freudian : Scopofilia. Scopofilia diawali dengan pengalaman kesenangan merupakan dampak dari peritiwa melihat. Namun rangkaian melihat ini tidak hanya sekilas (glance), selanjutnya Tina ingin mengetahui objek boneka lebih jauh dengan melihatnya secara teliti (observe). The Dream of Dolls, sudah barang tentu memiliki aspek fetis yang kuat, termasuk yang dialami Tina. Terutama fetisisme komoditi, berupa mentalitas yang beranggapan hadirnya suatu kekuatan, daya pesona atau suatu ruh yang berada dalam objek boneka. Bahkan pula suatu makna sosial tertentu milik seseorang atau perupa ini yang memiliki objek komoditi. Ia terpesona dengan pandangan mata yang lebih intens terhadap the Dream of Dolls ini (gaze). Kemudian imajinya berperan untuk memproduksi objek konsumer (produk komoditi) tersebut menjadi berbagai karya lukis pada pameran tunggalnya kali ini.
Imajinasi diawali dari fungsi dan daya reproduktif dengan cara menghadirkan ulang imaji-imaji yang pernah dibatinkan Tina melalui pencerapan inderawi terhadap realitas (memori dan sensasi). Hal ini berdasarkan pengalaman personalnya terhadap objek tersebut. Tahapan berikutnya, fungsi reproduktif dari imajinasi beralih menjadi kekuatan produktif yang bersifat otonom. Kemudian imaji yang utuh dicapai dari hasil pertalian fungsi reproduksif dan produkstif. keduanya menyertakan aktifitas pengkom-binasian dalam upaya penggabungan beragam imaji dengan persepsi personal. Fungsi produktif telah mampu menerbitkan gambaran baru yang mendahului pengalamannya. Suatu gambaran baru yang belum terlihat (tercerap indera lain) hingga teralami dengan ‘nyata’. Tetapi proses mental ini mampu d tata dan dipresentasikan secara khas (personal) dengan ‘nyata’ dalam batin personal : Tina Nurazina. Sejumlah realitas yang ditemui sebelumnya di dalam batin Tina telah berpotensi mendesiminasi berbagai gagasan dan imaji-imaji baru.
Berbagai objek pada lukisan Tina mengingatkan kita bentuk wajah super model saat ini, diantaranya diwakili pada karya : Red Light, Red Light #2, Yellow Lamp, dan Gold Pink #2. Aktifitas mengunduh, memindai, menyalin hingga mengubah beragam potensi virtual image yang diperoleh dari seperangkat media elektroniknya. Hasilnya disesuai dengan kebutuhan komunikasi seni atau ekspresi personalnya. Ia menawarkan cara melihat citra yang bertumpuk (Glowing Brown Moutain) dan memproduksi persepsi akan ruang : pegunungan. Disamping itu cara melihat objek secara tidak langsung atau melalui objek lain. Diantaranya diwakili oleh karya-karya yang menyertakan ruang personal melalui bola mata kucing (In Heaven #3) berupa cerminan citra boneka, objek yang berada di dalam aquarium (In Heaven), citra boneka pada wadah kaca yang berpose dengan permen kesukaan saat kecil dulu (Heavens Flavor). Ada pula karya yang memiliki aspek naratif, suatu objek boneka berada dalam tetesan embun di sehelai daun (Never Ending Morning). Kumpulan permen yang juga mengandung fetis yang dirasakan indera pengecapan dan warna-warna yang menjadi memorabilianya. Permen-permen dan boneka yang mampu pula memproduksi imaji baru. Penggabungan fetisisme komoditi mainan dan komoditi jajanan anak. Suatu kesenangan personal yang tumpang tindih antara masa lalu dan saat ini.
Ardiyanto (anto),
Kurator independen & perupa, tinggal di Bandung |