Selasar Weekend Cinema "9808" - release
Program Pemutaran Film
Selasar Weekend Cinema
“9808: Antologi 10 Tahun Reformasi”
28-29 Juni 2008

    Selasar Sunaryo Art Space (SSAS) bekerjasama dengan Proyek Payung menyelenggarakan program pemutaran film Selasar Weekend Cinema yang kali ini bertajuk “9808: Antologi 10 Tahun Reformasi”. Program ini merupakan program penghormatan terhadap satu dekade reformasi dengan menyiapkan sejumlah film pendek yang dilatarbelakangi oleh peristiwa Mei ‘98. Setiap pemutaran diikuti dengan 1 (satu) kali diskusi. Proyek ini ditujukan sebagai upaya membuka dialog terutama dengan kalangan muda (pelajar/mahasiswa, umum) mengenai penolakan untuk melupakan sejarah serta pemberdayaan masyarakat  untuk menyampaikan sesuatu (dalam hal ini  melalui medium audio visual).

Berikut adalah daftar film yang akan diputarkan:
 
1.    Di mana Saya? Where was I ?
[Anggun Priambodo | 2008| 10:39]
2.    Sugiharti Halim
[Ariani Darmawan | 2008| 09:52]
3.    Trip To The Wound
[Edwin | 2007| 06:42]
4.    Bertemu Jen/Meet Jen
[Hafiz|2008| 16:39]
5.    Huan Chen Guang /Happiness Morning Light
[Ifa Isfansyah | 2008| 15:00]
6.    A Letter of Unprotected Memories
[Lucky Kuswandi | 2008| 09:37]
7.    Kemarin/Yesterday
[Otty Widasari | 2008 | 13:02]
8.    Yang Belum Usai / The Unfinished One
[Ucu Agustin|2008|09:26]
9.    Sekolah Kami, Hidup Kami / Our School, Our Lives
[Steven Pillar Setiabudi | 2008|11:45]
10.    Kucing 9808, Catatan Seorang (Mantan) Demonstran/ Chronicles of a (former) Demonstrator
[Wisnu Suryapratama | 2008| 11:04]
 
Jadwal pemutaran film:
Sabtu, 28 Juni 2008 Pk.19.00 – 21.00 WIB, Amphitheater SSAS.
Minggu, 29 Juni Pk.13.00-15.00 WIB, Bale Handap SSAS.

Jadwal diskusi:
Minggu, 29 Juni 2008 Pk.15.00-17.00 WIB
Pembicara    : para partisipan ‘9808’
Moderator    : Heru Hikayat

Besar harapan kami kegiatan ini dapat diliput sebagai salah satu kegiatan budaya di Bandung khususnya dan skala nasional pada umumnya.


Peristiwa Mei 1998 Tidak Pernah Terjadi

Oleh Gustaff H. Iskandar*


Apa yang benar-benar bisa saya ingat tentang Peristiwa Mei 1998? Rasanya tidak terlalu banyak. Ada sebagian dari diri saya yang ingin menghilangkan beberapa potong peristiwa dalam ingatan itu. Kalau ditanya kenapa, saya sendiri merasa enggan untuk menjawabnya. Mungkin ini adalah gambaran dari kemarahan, rasa kecewa, trauma atau mungkin sebentuk kebingungan ketika berhadapan dengan realitas yang begitu konyol dan menyedihkan. Di dalam benak saya saat ini, apa yang terjadi 10 tahun yang lalu tampaknya tak jauh berbeda dengan sebuah pertunjukan film atau teater dalam sebuah panggung perhelatan raksasa. Sebuah perayaan yang mirip seperti sebuah pesta orgi.

Dalam hal ini, teks demokrasi, perubahan dan reformasi yang hadir diantara kerumunan demonstran, kerusuhan dan kematian ratusan korban hanyalah sepotong fragmen dalam sebuah drama yang bercerita mengenai kolapsnya sebuah negara yang dibangun atas dasar mitos mengenai kejayaan dan romantisme. Peristiwa Mei 1998 adalah pertunjukan agung yang tenggelam diantara jutaan sekuel kenyataan yang terjadi di dalam sebuah ruang epilepsi. Hadir sesaat untuk kemudian menghilang digantikan oleh jutaan peristiwa yang saling berebut untuk menjadi tontonan walau hanya dalam hitungan detik. Kenyataan sepertinya memang tidak pernah benar-benar terjadi di dalam ruang simulasi.

Tapi, apakah benar peristiwa Mei 1998 hanya merupakan gambaran dari sebuah kenyataan yang bermutasi menjadi sebuah mimpi buruk? Waktu itu saya dan beberapa kawan masih berstatus mahasiswa. Terkait dengan peristiwa gerakan Mei 1998, saya masih ingat akan ucapan teman saya yang menyatakan bahwa saat itu sejarah telah memilih untuk menghampiri tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. “Kita tidak pernah betul-betul menciptakan sejarah pada hari itu. Yang ada, sejarah yang menghampiri dan memaksa kita untuk menerima kenyataan tanpa ada kesempatan untuk menolak.” Begitu kira-kira celoteh teman saya yang sayup-sayup masih terbayang dengan latar belakang suasana demonstrasi mahasiswa yang begitu riuh rendah.

Beberapa saat sebelum peristiwa Mei 1998 terjadi, ada banyak orang yang percaya bahwa pada saat itu momentum perubahan benar-benar akan datang. Saya mungkin salah satu diantara orang-orang itu. Namun ada banyak orang yang kemudian harus kecewa ketika menyadari bahwa harapan yang mereka miliki perlahan telah berubah menjadi sebuah fiksi yang barangkali tidak memiliki kaitan langsung dengan kenyataan hari ini. Setelah 10 tahun bergulir, harapan mengenai perubahan itu kini telah tergerus oleh situasi negara yang terancam bubar karena korupsi, autisme sosial yang akut dan konflik kepentingan yang tidak terkendali.

Kini, dihadapan kita telah hadir 10 karya film pendek yang dilatarbelakangi oleh peristiwa Mei 1998. Proyek ini merupakan sebuah upaya untuk membuka ruang dialog yang sekaligus merupakan sebuah sikap untuk melawan lupa, sehingga peristiwa Mei 1998 dapat dimaknai sebagai sebuah peristiwa yang monumental. Seorang kawan menuliskan bahwa sejarah adalah upaya manusia untuk memaknai kehidupan yang sekaligus merupakan sebuah cara untuk mempertahankan habitatnya sebagai mahluk yang dikaruniai akal. Oleh karena itu, sikap untuk melawan lupa barangkali merupakan satu-satunya cara untuk melawan hegemoni dan proses dehumanisasi, sehingga kita dapat terus mendorong (mimpi) mengenai perubahan ke arah yang lebih baik. Di luar itu mungkin peristiwa Mei 1998 tidak pernah benar-benar terjadi.

Kyai Gede Utama, 14 Juni 2008

* Penulis adalah seniman, bekerja untuk Common Room Networks Foundation