Pameran Arsitektur Indonesialand

Pembukaan: Jumat. 2 September 2016
Workshop: Sabtu – Minggu, 3 – 4 September 2016
Curators Talk: Sabtu, 1 Oktober 2016

Pengantar

Hakikat arsitektur adalah meruangkan empati sosial humaniora dengan matematis. Ia didesain untuk [simple_tooltip content=’Tatanan pengaturan alam semula jadi yang bersifat innate ‘mutlak’, dan tatanan yang diyakini antar manusia sebagai acuan: konvensi keagamaan, sosiologi peradaban, dan ilmu pengetahuan hasil rasionalisasi hukum alam. Sifat order hasil kreativitas manusia bersifat relatif karena evolutif; tak mutlak sebab berubah sesuai konteks tempat dan waktu peradaban.’]mentrimatrakan sistem dan order[/simple_tooltip] kehidupan sehari-hari. Secara kasat mata, dengan estetis, ia merangkum ikhtiar-ikhtiar masyarakat ber-poleksosbudhankam. Karena itu, entitas fisiknya menyimpan jejak masa lalu, hari ini, dan kelak. Dengan kata lain, arsitektur merekam peradaban.

Peradaban diproses arsitektur dengan cara “memanusiakan” [simple_tooltip content=’Manusia memiliki insting untuk menjadi “pemangsa” sesamanya.’]Homo homini lupus est[/simple_tooltip] menjadi [simple_tooltip content=’Manusia yang mampu mengoptimalkan inteligensianya menjadi mahluk produktif. Secara spesifik, filsuf Perancis, Henri Bergson (1911) menyebutnya manusia intelektual, berguna bagi sesamanya.’]Homo faber[/simple_tooltip]. Arsitektur mengelola irisan-irisan beragam kepentingan para individu yang berlatar-belakang majemuk, pada suatu lingkungan masyarakat, menjadi tatanan yang berkonvensi-bernorma-berperaturan–berundang-undang. Visualisasi estetis dari kemufakatan pengelolaan hak dan kewajiban masyarakat inilah, yang menjadi ruh arsitektur. Eksistensinya bernilai politis sebab arsitektur menyangkut kebutuhan primer, sehingga perlu diatur dan dijamin negara. Maka bila kualitas maupun kuantitas parameter arsitektur tak optimal dipenuhi, tentu saja dapat mengakibatkan konflik.

Hal ini dapat dilihat pada kenyataan ironis, perkembangan perkotaan Indonesia.  Mirip [simple_tooltip content=’Bandingkan dengan analisis D. Acemoglu & J. A. Robinson mengenai negara-negara gagal pada bukunya, Why Nations Fail, The Origins of Power, Prosperity, and Poverty (New York: Crown Business/ Random House, Inc., 2012), hlm. 368 -403.’]negara berkembang lainnya[/simple_tooltip], akar permasalahan perkotaan pada abad 21 ini, adalah tak mawasnya institusi negara mengantisipasi laju pertumbuhan kebutuhan arsitektur masyarakatnya yang seperti deret ukur, sementara luas daratan bernilai konstan. Ketidakmawasan tersebut, konsekuensi pola pikir masyarakat juga aparatur, yang kebanyakan masih memperlakukan arsitektur semata benda mati (baca: bangunan), alih-alih sheath [simple_tooltip content=’Peter Cook, Architectural Monographs No 28, Peter Cook, Six Conversations (London: Academy Group Ltd, 1993), hlm. 126-7.’]’wadah hidup kehidupan'[/simple_tooltip] yang seharusnya bersistem dan berorder. Dengan kata lain, perkotaan yang berarsitektur semrawut – tak nyaman dihuni, mengindikasikan (baca: visualisasi) ketimpangan tatanan  raga-berperilaku terhadap jiwa-berpikir masyarakat dan aparatur, dalam segala hal.

Berfondasikan gambaran singkat di atas, Indonesialand berinisiatif memaparkan realitas masyarakat Indonesia, dengan arsitektur sebagai subjek pengisahannya. Pameran berdatumkan architectural culture reporting, memperspektifkan kemajemukan wajah arsitektur Indonesia, yang selama ini  lazim dipersepsikan awam sebatas pameran komodifikasi ruang kapital.  Ikhtiar Indonesialand adalah dengan lugas, mengisahkan kedinamisan masyarakat mengelola potensi maupun tantangan pada ruang urban Indonesia.

Untuk itu, arsitektur Indonesia dipresentasikan mulai dari skala mikro hingga makro, baik pasar bawah hingga atas, pada proyek swasta maupun pemerintah. Pemaparan arsitektur sebagai realitas waktu dulu-sekarang-hingga masa depan, yang dicetuskan pemikiran kiri maupun kanan, oleh akademisi-aktivis-arsitek profesional-birokrat-desainer-pengembang-dan seniman. Tujuannya memperluas kosakata masyarakat dalam mengalami ruang, dalam ranah populer tapi  edukatif. Akhir kata, Indonesialand adalah kisah masyarakat berarsitektur (baca: berbudaya),  yang ditinjau dari sisi keilmuan dan realitas praktik sehari-hari, di sebuah negeri bernama Indonesia.

Bandung,  Februari  2016
Sarah M. A. Ginting   (Kurator Pameran)

Peserta Pameran

Penyelenggara:

Didukung oleh:

© 2015 Selasar Sunaryo Art Space. Site by TiasaWeb.