Mencari Saya dalam Sejarah Seni Rupa Saya

Mengakhiri tahun 2012, Bale Tonggoh-Selasar Sunaryo Art Space (SSAS) menyelenggarakan sebuah pameran yang menarik dengan menampilkan karya-karya Aminudin T.H. Siregar dan R.E. Hartanto. Kedua nama ini penting dalam medan seni rupa Bandung dalam terkhusus pada kegiatan aktivisme seni yang mereka lakukan di akhir tahun 1990-an hingga awal 2000-an.

“Kesadaran ini sudah mengendap di kepala saya semenjak lama, bahwa buat saya, seni adalah bermain-main dengan kesia-siaan. Memang benar, pada batas historis tertentu, seni pernah “bermanfaat” dalam melengkapi, misalnya: manifestasi nasionalisme. Tetapi, secara umum, seni rupa di Indonesia adalah kesia-siaan yang dipelihara agar kegilaan dinilai menjadi ‘kewarasan’. Dalam satu dasawarsa terakhir, karya-karya seni rupa di Indonesia itu lebih banyak omong-kosongnya ketimbang manfaatnya bagi kemanusiaan”.

Aminudin TH Siregar, seniman

Saat ini kiprah Aminudin T.H. Siregar yang akrab dipanggil Ucok sebagai sebagai perupa mungkin kurang terdengar karena ia lebih banyak beraktivitas sebagai kurator, kritikus dan pengajar. Padahal pada masa Pra-Reformasi Ucok dikenal sebagai perupa dengan kecenderungan karya yang bertema sosial politik. Setelah itu, Ucok menginisiasi Blupart!, sebuah gerakan yang mengusung nihilisme dalam seni.

“Kita selalu membayangkan diri sebagai insan yang berdaulat dan mandiri, bebas menentukan pilihan sendiri. Namun saat kebebasan tanpa panduan berhadapan dengan jutaan kemungkinan dan tidak tahu apa yang diinginkan, ia akan terpeleset ke dalam jurang kecemasan. Patah dan lumpuh dalam cekaman depresi”.

R. E. Hartanto, seniman

Di sisi lain, R.E. Hartanto, meski segenerasi dengan Ucok, rekam jejaknya sebagai seniman menempatkannya pada wilayah yang berbeda dengan Ucok. Pada awal 2000-an Tanto adalah penggiat seni media baru di Bandung dengan mendirikan Bandung Center for New Media Arts bersama beberapa temannya. Selain lukisan sebagai medium utama, Tanto juga menekuni medium-medium lain dengan pokok soal kecemasan dan ketakutan yang dihadapi oleh manusia-manusia modern. Seri karya Post North Korea Nuclear Test dengan komprehensif sekaligus komikal menampilkan pokok soal tersebut yang diwujudkan dalam lukisan, foto, instalasi dan video.

Pameran ini menghadirkan hubungan antara kedua seniman pada tema kegelisahan dan kecemasan dalam konteks yang berbeda. Selain beberapa karya baru, Ucok menampilkan beberapa karya lamanya yang bertema sosial politik.  Alih-alih berkutat pada tema sosial politik, karya-karya baru Ucok berpaling pada tema ejekan dan sinisme terhadap medan seni rupa kontemporer Indonesia saat ini. Perubahan tema ini dapat dirasakan sebagai kegelisahannya pada kondisi seni rupa Indonesia. Sama seperti Ucok, saat ini Tanto juga sedang dilanda kegelisahan yang mengondisikan dirinya tidak bisa berkarya. Sangat menarik mendengar pengakuannya bahwa seluruh karya dalam pameran ini dibuat melalui sudut pandang ‘orang kedua’ dari dirinya. ‘Dirinya sendiri’ ditempatkannya sebagai pengamat dalam penciptaan karya-karya ini. Dengan tajuk Mencari Saya dalam Sejarah Seni Rupa Saya, pameran ini menempatkan kedua seniman sebagai kurator.

Pameran bersama Aminudin TH Siregar dan R. E. Hartanto

Bale Tonggoh – Selasar Sunaryo Art Space

14 – 30 Desember 2012

Bale Tonggoh – Selasar Sunaryo Art Space mempersembahkan pameran bersama Aminudin TH Siregar dan R. E. Hartanto dengan tajuk Mencari Saya dalam Sejarah Seni Rupa Saya.

Rincian kegiatan adalah sebagai berikut:

Pembukaan:  Jumat, 14 Desember 2012, pukul 19.00 WIB s/d selesai

Dilanjutkan dengan artists talk di Bale Tonggoh

Pembicara: Aminudin TH Siregar dan R. E. Hartanto

Pameran: 14 – 30 Desember 2012

Tempat: Bale Tonggoh