selasarsunaryo.com
Selasar Weekend Cinema 2014: ArtHouse Cinema “Der Himmel Über Berlin”

 

Sabtu, 27 September 2014

Pk. 15.00 WIB

di Bale Handap

Selasar Sunaryo Art Space

Selasar Sunaryo Art Space (SSAS) bekerja sama dengan Goethe-Institut, menyelenggarakan pemutaran film “Der Himmel Über Berlin”. Pemutaran film ini merupakan rangkaian program reguler Selasar Weekend Cinema 2014: ArtHouse Cinema yang dilangsungkan pada hari Sabtu pekan terakhir setiap bulan.

Der Himmel Über Berlin

Colour & Black-White, 127 min., 1987.

Director: Wim Wenders

Deskripsi

Der Himmel Über Berlin merupakan film Franco-German yang bergenre fantasy romantic. Film ini menceritakan tentang para malaikat yang menghuni kota Berlin. Meskipun Berlin merupakan kota yang padat, banyak penduduknya yang terisolasi atau terasing dari orang-orang yang mereka cintai. Tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing, mereka menyimpan kerinduan-kerinduan sendiri. Hanya para malaikat yang dapat mendengar isi hati mereka yang sejujurnya. Para malaikat tak kasatmata ini menemani para manusia di setiap langkah mereka, menunggu di samping mereka di stasiun kereta api atau ikut masuk ke dalam ruang-ruang tempat tinggal mereka. Para malaikat mendengar keluh kesah manusia dan membisikkan kata-kata penghiburan, namun pada akhirnya mereka hanyalah pengamat yang tidak bisa berbuat apa-apa.

Read more...
 
Things Happen When We Remember

Pameran Tunggal FX Harsono

 

Pembukaan Pameran:

Sabtu, 6 September 2014, Pk. 19.00 WIB

Di Amphiteater

Dibuka oleh Mr. Ton van Zeeland

(Direktur Erasmus Huis, Kepala Bagian Humas dan Kebudayaan Kedutaan Besar Belanda di Indonesia)

 

Artist Talk:

Minggu, 7 September 2014, Pk. 14.30 WIB

Di Bale Handap

 

Exhibition Walkthrough:

Minggu, 7 September 2014, Pk. 13.30 WIB

Jumat, 12 September 2014, Pk. 13.30 WIB

 

Durasi Pameran:

6 September – 28 September 2014

Di Ruang B dan Ruang Sayap

 

[...]Pameran Things Happen When We Remember (Kita Ingat Maka Terjadilah) mempertemukan sejumlah karya instalasi dan video FX Harsono empat tahun terakhir (2011 – 2014) dalam sebuah presentasi baru. Pemilihan karya-karya ini tidak hanya dimaksudkan untuk menunjukkan suatu fokus tematik yang semakin menguat dalam karya-karya Harsono. Persoalan diri dan ingatan-ingatan personal menjadi subjek baru dalam karya-karya mutakhirnya. Berangkat dari pertanyaan-pertanyaan tentang identitas diri dan keluarganya, ia menelusuri kembali berbagai tempat, peristiwa, kisah-kisah (dalam buku-buku sejarah, mitos ataupun tuturan) dan artefak-artefak yang ia anggap mewakili narasi sejarah tentang etnis Tionghoa di Indonesia. Harsono menggali narasi-narasi yang terpendam dan terepresi oleh sejarah besar. Seluruh karya dalam pameran ini adalah sampel dari sebuah proses kerja kreatif yang khas. Proses pengerjaan karya-karya dalam pameran ini melibatkan observasi dan metode ‘riset’ yang ia ciptakan sendiri. Yang menarik, meskipun masih berdasar pada pengamatan terhadap kenyataan-kenyataan sosial, karya-karya ini masih menunjukkan suatu pengolahan dunia imajinasi dan pengalaman batin yang subjektif. Mewakili perlintasan ulang-alik antara ‘data’ dan ‘imajinasi’, antara objektivitas dan subjektivitas, proses kreatif Harsono melahirkan tafsir artistik yang menyentuh tentang sejarah dan ingatan.[...]

Agung Hujatnikajennong, Kurator Pameran

 

Download Leaflet Things Happen When We Remember