Afternoon Tea #38: ESTETIKA ISLAM

Selasar Sunaryo Art Space bekerja sama dengan Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan mempersembahkan: Seri Diskusi Afternoon Tea #38: ESTETIKA ISLAM.

Pembicara: Bambang Q. Anees
Penanggap: Yogie Achmad Ginanjar
Moderator: Mardohar B.B. Simanjuntak

Jumat, 29 September 2017
15.00 WIB – selesai | Bale Handap
Selasar Sunaryo Art Space

Bicara tentang estetika dari sudut pandang agama tidak akan mengecualikan pisau bedah analitis, bagi Ibnu Rusyd (Oliver Leaman: 2005,230). Estetika Islam pun dengan demikian dapat diperlakukan serupa. Dalam Estetika Islam, Menafsirkan Seni dan Keindahan, Leaman mencoba menjernihkan kesimpang-siuran filsafat seni Islam sebagai sebuah ruang gerak yang tidak memberi kemungkinan pewacanaan. Sebaliknya, berbagai wacana dapat mengalir dengan deras saat kita menyoal satu elemen yang misalnya paling fundamental dalam estetika Islam: cinta dan keindahan.

Bambang Q. Anees termasuk salah satu cendekia di bidang Filsafat Islam yang gemar mengangkat sisi yang selama ini cenderung terabaikan: mata cinta, sebuah langgam yang diangkat secara intens oleh Maulana Jallaludin Rumi, sang sufi yang kematiannya ditangisi oleh kaum Muslim, Yahudi, dan Kristen (Annemarie Schimmel: 2002, 39). Di kutub yang lain perupa Yogie Achmad Ginanjar baru saja memutuskan untuk membanting setir gaya berkeseniannya dengan total meninggalkan elemen-elemen figuratif dalam lukisan-lukisannya. Keputusan semacam ini juga merupakan bagian dari Estetika Islam yang kompleks dan multi-dimensional. Kedua perspektif inilah yang membangun gerak pewacanaan estetika yang religius ini.

Afternoon Tea kali ini mencoba membincangkan kedua kutub ini dalam satu arena dialektis dan seturut gagasan yang diajukan oleh estetikus Richard Wollheim: kita akan melihat bagaimana melukis―sebagai kegiatan seeing-in (Matthew Kieran: 2006,147)―dibongkar lapis demi lapisnya lewat perspektif Estetika Islam.

Profil Pembicara

Bambang Q Anees (lahir di Serang) menyelesaikan kuliah di Jurusan Akidah dan Filsafat, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati, Bandung. Ia kemudian mengajar Religious Studies pada program pascasarjana di sana.

Yogie Achmad Ginanjar (lahir 1981 di Bandung) lulus dari Studio Seni Lukis, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 2006. Banyak lukisan Yogie berasal dari ketertarikannya untuk mengintervensi idiom, tanda dan kode yang ada di dalam seni lukis Barat. Ia baru saja meraih penghargaan Public Vote Prize dalam ajang Sovereign Asian Art Prize 2017.

Mardohar B.B. Simanjuntak (lahir 1977) adalah dosen estetika di Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) Bandung. Selain aktif mengajar dan meneliti di universitas, juga menjadi pegiat fotografi independen dan menjadi pembicara di forum seperti Seminar Estetik “Larut” yang diadakan oleh Galeri Nasional Indonesia. Ia kerap kali menjadi moderator di berbagai forum kebudayaan, menulis buku tentang estetika, filsafat dan politik dan berpartisipasi dalam beberapa pameran kelompok di Bandung.